Minggu, 01 Juli 2012

REJEKI (1)

Hari masih sore ketika pak Dullah bergegas pulang ingin segera memberitahu istrinya tentang rejeki besar yang ia terima hari ini. Wajahnya berseri-seri, langkahnya lebih lebar dari biasa. Jarak ke rumah yang hanya sekitar lima menit jalan kaki dari tempatnya bekerja terasa sangat jauh kali ini. "Bu.., Bu!" Serunya begitu sampai di depan pintu. 

Istri pak Dullah sedang duduk di bale-bale di ruang tamu sembari melipat pakaian bersih yang baru diangkat dari jemuran. Ia terkejut mendengar suara suaminya. Ia heran suaminya sudah pulang sore-sore. Biasanya paling cepat jam sembilan malam baru pulang. Kadang kala hampir tengah malam jika ada karyawan yang kerja lembur.
"Buuu!" Suaminya memanggilnya lagi. Kali ini sambil mengetuk-ngetuk pintu agak keras.
"Yaa, sebentar."  Sang istri beranjak ke pintu dengan susah payah. Ia sedang hamil tua, tinggal menunggu hari kelahiran si jabang bayi yang sedang dikandungnya. Menurut perkiraan bu Bidan, mungkin tidak sampai seminggu lagi anak itu lahir.
"Ada apa, Pak? Kok masih sore sudah pulang?" Ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk  terhadap suaminya.
"Alhamdulillah, Bu, alhamdulillah. Kita mendapat rejeki besar! Seru suaminya gembira.
"Rejeki apa, Pak?" Sang istri belum paham.
"Ayo duduk dulu, Bu." 
Pak Dullah membimbing istrinya menuju bale-bale. Bale-bale itu adalah perabot terbesar yang ada di ruang tamu yang sering juga menjadi tempat tidur pak Dullah. Apalagi belakangan ini ketika kandungan istrinya makin besar. Istrinya sering kepanasan jika tidur berdua dengan pak Dullah di kasur milik mereka di kamar, karena kasur itu sebenarnya memang tidak cukup besar untuk menampung mereka berdua.  Pak Dullah dan istrinya tidak punya pilihan lain karena mereka belum mampu membeli kasur yang lebih besar. Kasur di kamar mereka pun kasur bekas pemberian adik pak Dullah.

Barang-barang lainnya di ruang tamu hanyalah sebuah meja kayu, sebuah televisi 14 inci model lama di atasnya. Sebuah rak kayu berisi bermacam-macam barang, sebuah kipas angin yang digantung di tengah langit-langit. Putaran baling-baling kipas itu menimbulkan suara dengung agak keras. Tetapi pak Dullah dan istrinya sudah terbiasa dengannya.

Mereka hanya tinggal berdua di  rumah kontrakan itu. Rumah petak sederhana dengan uang sewa bulanan yang masih bisa dijangkau oleh pak Dullah dari sebagian gajinya sebagai petugas cleaning service merangkap OB di tempatnya bekerja. Selain ruang tamu dan kamar tidur, ada dapur kecil dan kamar mandi. Di bagian belakang masih ada ruang terbuka untuk mencuci dan menjemur pakaian. Meski kecil dan sederhana, namun rumah itu rapi dan bersih. Pohon rambutan dan pohon jambu di depan rumah memberi kesan teduh dan asri.

Setelah mereka berdua duduk di bale-bale pak Dullah bercerita kepada istrinya. Sore tadi di kantor, sebelum ia pulang, pak Dullah ditemui oleh  pak Faisal, putra pemilik perusahaan yang juga manajer di perusahaan milik orang tuanya. Pak Dullah saat itu sedang berada di pantry hendak menyiapkan kopi dan teh untuk karyawan.

"Pak Faisal memberiku ini, Bu. Kemudian dia mengijinkanku pulang lebih awal hari ini." Pak Dullah mengeluarkan amplop coklat dari tasnya.
"Ini......uang, Pak?" Istri pak Dullah menatap amplop itu tak percaya. Amplop itu memang berisi uang. Jumlahnya mungkin cukup banyak karena tampak tebal.
"Iya, ini uang, Bu. Uang zakat Pak Haji, untuk kita." Pak Haji adalah sebutan untuk ayah pak Faisal.
"Alhamdulillah....... ini rejeki anak kita, Pak."

Mata istri pak Dullah berkaca-kaca. Ia tahu betul belakangan ini suaminya bekerja keras mengumpulkan uang untuk persiapan biaya melahirkan. Ia hanya bisa membantu suaminya dengan mendoakan semoga Allah memberikan kemudahan. Ia berencana melahirkan di klinik bidan di dekat rumahnya. Namanya Bidan Een, lengkapnya Endah Heryani. Biaya melahirkan di klinik Bidan Een tidak terlalu mahal bagi istri pak Dullah dan warga sekitarnya. Apalagi jika dibanding biaya melahirkan di rumah sakit. Ia sangat bersyukur, hari ini Allah memberikan pertolongan, mengabulkan doanya.

Ia teringat tausiah seorang ustad di televisi yang ditontonnya hampir setiap pagi. Ia menyukai gaya kocak sang Ustad jika sedang memberikan tausiahnya. Pada satu episode, sang Ustad menjelaskan tentang rejeki. 
Setiap nyawa yang Allah tiupkan ke dalam tubuh manusia sudah dijamin rejekinya.  Sejak masih dalam bentuk janin, hingga saatnya nyawa dicabut dari raga. Tugas manusia adalah berusaha meraih rejeki yang sudah Allah siapkan dan bersyukur atas rejeki yang diterimanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar