Selasa, 17 Juli 2012

INSTAN


Kemajuan peradaban manusia selalu ditandai dengan adanya penemuan-penemuan baru teknologi yang mempermudah manusia melakukan sesuatu. Dari hal yang paling sederhana hingga yang tercanggih, dari jaman pra sejarah hingga era ultramodern. Inovasi teknologi tak pernah berhenti, terus berkembang dari waktu ke waktu. Semua mengarah pada peningkatan efektifitas dan efisiensi, Sesuatu dibuat makin cepat, makin praktis, makin mudah, makin nyaman dan sebagainya. Contoh, komputer pertama di dunia berukuran sebesar rumah. Penemuan-penemuan berikutnya menciptakan komputer dengan ukuran semakin kecil, hingga bisa digenggam. Makin praktis, mudah dibawa dan makin nyaman menggunakannya. Contoh lain, perkembangan teknologi dibidang otomotif. Perusahaan produsen motor dan mobil di manapun selalu berlomba membuat produknya makin hari makin irit bahan bakar, makin cepat laju, makin mudah penggunaannya. Dari mobil berbahan bakar solar sampai BBM beroktan tinggi, dari sistem manual sampai otomatik. Demikian pula motor. Bukan hanya teknologi mesinnya yang makin canggih, dan efisien, penampilan juga dibuat makin gaya. Disainnya makin menarik dan makin nyaman bagi pengendara. Teknologi komunikasi, teknologi pertanian, teknologi industri, semua terus berkembang.  Pendeknya, semua aspek kehidupan manusia makin dipermudah dengan penemuan baru terus menerus. Sehingga saat ini kita terbiasa dengan sesuatu yang serbacepat, serbamudah dan praktis, serbaseketika,  serbainstsan.

Teknologi serbainstan sangat populer dalam bidang pangan. Dalam kondisi manusia dituntut lebih efisien dalam penggunaan waktu, mereka memerlukan segala sesuatu dilakukan secara cepat, termasuk  makan. Hal ini mendorong para pengelola rumah makan menciptakan sistem cepat saji dalam melayani pelanggan. Pelanggan tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan makanan (kecuali jika antriannya sangat panjang). Produk pangan untuk konsumsi rumahan juga mengalami instanisasi. Berbagai bahan pangan saat ini bisa didapat dalam bentuk tepung siap olah, hanya dengan mencampur  bahan tersebut dengan bahan penunjang lain jadilah makanan dalam waktu singkat.  Produk pangan siap saji hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk menyiapkannya, praktis caranya tanpa repot. Ada yang cukup direbus atau dipanaskan dalam oven. Produk-produk seperti mie sampai bumbu masak racikan, cake dan puding, piza, popcorn, dan banyak lagi. Semuanya instan. 

Kebiasaan  serbainstan mempengaruhi pola pikir dan perilaku orang sehingga melakukan hal-hal yang salah kaprah. Fakta bahwa tidak ada cara instan yang aman untuk melangsingkan tubuh tidak menyurutkan orang mencoba cara-cara instan yang belum tentu aman. Ingin kaya secara instan mendorong orang melakoni cara-cara yang tak masuk akal, melalui dunia ghaib atau klenik. Sebagian orang memperoleh kekayaan dengan cara melanggar hukum. Mencurangi, mencuri, menipu, merampas hak orang lain. Betapa banyak kita dengar kasus pelanggaran hukum, dari maling sepeda sampai korupsi trilyunan rupiah. 

Dalam bidang kecantikan banyak orang terkecoh oleh iming-iming iklan produk yang dapat memutihkan kulit dalam waktu hanya beberapa minggu atau setelah sekian kali pemakaian. Mereka mungkin kurang cermat memerhatikan kata-kata “ tampak lebih putih” atau “terasa lebih lembut” itu hanyalah sugesti yang sengaja ditanamkan ke benak konsumen. Beberapa produk mungkin berkwalitas baik dan aman bagi konsumen, tetapi lebih banyak produk sejenis yang diproduksi secara sembarangan dengan dasar pengetahuan dan kemampuan seadanya, serta tidak ada jaminan produk itu efektif dan aman bagi penggunanya. Tentu saja kita harus berhati-hati terhadap produk seperti ini.  Konsumen yang kritis dan rasional tidak akan mudah percaya janji-janji muluk iklan produk atau sekadar “kata orang.” Dia akan mencermati apa saja yang terkandung dalam produk, juga mencari tahu fakta-fakta ilmiah tentang memutihkan kulit. Dengan begitu dia menemukan bahwa memutihkan kulit memerlukan proses dan waktu, tidak sesederhana dan sesingkat seperti yang digambarkan iklan produk.  Ini sekadar contoh. Begitulah sikap yang benar terhadap setiap penawaran produk. 

Segala sesuatu yang salah sasaran dan salah guna pasti berdampak negatif. Demikian pula prinsip serbainstan, jika diterapkan secara proposional akan bermanfaat. Tetapi jika diterapkan bukan pada tempatnya akan merugikan. Pilihan kembali kepada kita.***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar