Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata 'wayang'? Wayang kulit, dalang, gamelan, atau sinden? Orang lain mungkin akan langsung mengasosiasikan wayang dengan Wayang Golek, Wayang Klithik, Wayang Beber dan banyak lagi jenis wayang yang berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan Cina, Jepang dan banyak negara lain memiliki seni pertunjukan boneka sebagai bagian dari kebudayaan mereka, yang prinsip dasarnya mirip dengan wayang.
Bagiku, wayang mengingatkanku pada banyak hal. Pada masa kecilku di kampung yang tak terlupakan karena hampir setiap malam aku diajak menonton wayang oleh nenek, Mbah Ireng namanya. Wayang yang kami tonton ketika itu adalah jenis Wayang Orang, yakni wayang yang diperankan oleh manusia.
Tempat pertunjukan wayang orang di kampungku itu sederhana, berupa bangunan tidak permanen. Rangka bangunan berbahan kayu, dindingnya anyaman bambu (Jw : gedhek). Lantainya aku lupa, apa tanah atau semen. Yang kuingat dari lantai bangunan pertunjukan adalah serpihan kertas karcis berserakan di dekat pintu masuk. Ukuran bangunan cukup untuk menampung sekitar 50 tempat duduk. Di barisan paling depan sederet kursi kayu, di belakangnya belasan deret bangku panjang yang memiliki sandaran, juga terbuat dari kayu. Deretan bangku dan kursi dipisahkan dengan gang di tengah, membelah deretan bangku dari belakang ke depan. Gang itu selebar 1,5 meter. Bila sedang ramai, bukan hanya seluruh tempat duduk terisi, gang itu pun penuh sesak oleh penonton. Di depan deretan kursi terdepan adalah tempat seperangkat alat gamelan, hanya dipagari sekat setinggi lutut orang dewasa. Kemudian bagian terdepan adalah panggung pertunjukan setinggi sekitar satu meter. Ketika aku kecil, panggung itu tampak mewah dan terang benderang. Lampunya membuat pakaian para wayang gemerlap. Paras mereka menawan.
Sensasi yang sangat kusukai dari menonton wayang orang adalah perasaan larut dalam cerita atau lakon yang dimainkan. Suara gamelan bagai mengantarkanku masuk ke negeri dongeng. Negeri para wayang.
Seperti menonton film tiga dimensi jaman sekarang. Jika ingatanku lebih baik, aku pasti ingat semua tokoh yang mereka perankan dan bagaimana urutan ceritanya. Tetapi sayang sekali ingatanku payah, jadi hanya beberapa tokoh saja yang kuingat dengan baik. Seperti para tokoh Pandawa, kakak beradik yang berjumlah lima orang. Ayah mereka Pandu Dewanata. Yang tertua Puntadewa, kemudian Werkudara alias Bima Sena dan Arjuna alias Janaka alias Permadi. Mereka bertiga lahir dari Dewi Kunti. Dua adik mereka yang terakhir adalah kembar Nakula dan Sadewa, dilahirkan oleh Dewi Madrim. Pandu Dewanata dan Dewi Madrim wafat ketika Nakula dan Sadewa masih kecil. Sejak itu para Pandawa diasuh oleh ibu Dewi Kunti hingga dewasa. Pandawa merupakan para kesatria simbol manusia teladan. Tidak hanya penampilan fisik mereka enak dipandang, perangai dan tingkah lakunya terpuji. Semua karakter, sifat dan integritas tak tercela ada pada para Pandawa. Karena itu banyak orang tua menamai anak mereka dengan nama tokoh Pandawa, dengan harapan dapat meneladani mereka. Tokoh penting di sekitar Pandawa yang sangat erat dengan mereka adalah Gatotkaca. Dia adalah anak Werkudara dengan istrinya Dewi Arimbi. Tokoh lainnya yakni Kresna, seorang raja titisan dewa Wishnu. Kresna digambarkan selalu adil dan bijaksana, yang selalu membimbing Pandawa. Kresna juga selalu ada ketika para Pandawa membutuhkannya. Sebagai titisan dewa, Kresna memiliki kemampuan mengetahui kejadian yang akan datang. Ia juga berperan sangat besar dalam menentukan kemenangan Pandawa dalam perang Bharatayudha melawan Kurawa di padang Kurusetra. Kurawa adalah sepupu Pandawa. Kurawa berjumlah 100 bersaudara. Cara kelahiran mereka unik, yakni dari segumpal daging yang lahir dari rahim ibu Dewi Gandari, kemudian terpecah menjadi 100 bayi manusia. Ayah mereka adalah saudara tua dari ayah para Pandawa. Gambaran perangai dan sepak terjang para Kurawa adalah kebalikan dari Pandawa. Kurawa adalah simbol perangai buruk manusia, kasar, tamak, keji, dengki, hasut dan berbagai keburukan lainnya. Nama Srikandi pasti tak asing bagi anda. Srikandi adalah istri Arjuna, selain Dewi Subadra istri Arjuna lainnya.
Perang Bharatayudha adalah simbol peperangan antara kejahatan melawan kebaikan. Di antara nilai-nilai yang ingin dinasihatkan dari peran ini adalah, bagaimanapun kebaikan pasti menang melawan kejahatan, meskipun dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Kisah perang Bharatayudha sudah banyak ditulis, termasuk dalam bentuk komik. Maka tidak perlu kuceritakan di sini. Selain akan terlalu panjang, juga akan terasa tidak lengkap bila tidak menyertakan cerita lain yang berkaitan dengannya. Memang, jalinan cerita setiap pementasan saling berhubungan dari lakon ke lakon. Itu pun hanya bisa kuingat secara acak dan sepotong-sepotong. Tetapi daya tarik sensasi wayang orang itu tak pernah surut, hingga kini.
Wayang orang tidak hanya pertunjukan seni, tidak hanya kebudayaan. Wayang orang adalah miniatur alam semesta. Ia mengajarkan banyak hal. Tentang filosofi kehidupan, tentang nilai-nilai kebajikan. Sesuai dengan misi penciptaan wayang sebagai alat dakwah dan penyebaran nila-nilai agama oleh para Wali di Jawa di jamannya. Pakem cerita wayang orang sama dengan wayang kulit. Perbedaannya hanya pada wayangnya. Yang satu terbuat dari kulit yang dimainkan oleh dalang, sedangkan yang lain oranglah yang bermain sebagai wayang. Wayang orang hingga kini diyakini sebagai ilustrasi yang hidup dan menjadi rujukan bagi orang yang mengenal dan memahaminya. Kebiasaan menonton wayang orang saat kecil itu membuatku mengenal dan memahami sebagian budaya Jawa. Aku juga mengenal bahasa Jawa Kromo Inggil, bahasa Jawa halus, dari dialog para wayang. Aku tidak menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, tetapi paling tidak, aku paham ketika orang menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil itu kepadaku. Seperti beberapa orang Yogya dan Solo yang kukenal. Wayang orang membuatku merasa cukup layak mengaku sebagai orang Jawa, bukan cuma karena aku lahir di Jawa.
Wayang orang masih ada hingga kini. Di kota Solo masih ada grup Wayang Orang Ngesti Pandowo. Di Jakarta ada Wayang Orang Bharata dan grup-grup wayang orang lain yang masih aktif di beberapa daerah. Aku masih sering menonton pertunjukan Wayang Orang Bharata di kawasan Senen Jakarta Pusat. Sensasi yang kurasakan masih sama. Meskipun berjarak puluhan tahun, pesona wayang orang bagiku masih sama. Menonton wayang orang selalu menjadi oasis bagiku di tengah gurun pasir kehidupan sehari-hari. Setiap kali usai menonton wayang orang, aku seperti baterai yang baru dicas, atau seperti mobil yang baru selesai diservis dan tangki penuh bahan bakar, siap melaju menempuh perjalanan panjang kehidupan dengan berbagai tikungan, tanjakan dan turunan. Jika sedang tidak ada kesempatan nonton wayang orang, minimal aku bisa mendengarkan lagu dan musik dari gamelan yang lazim disebut gending dan klenengan. Itu adalah musik paling indah dan melenakan di dunia.
Jumat, 29 Juni 2012
Rabu, 27 Juni 2012
Di, pada dan kepada, serta akhiran kan dan i
Di
Kata di menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan (daring) diantaranya :
1. kata depan untuk menandai tempat: bapak saya bekerja -- kantor; semalam ia tidur -- rumah temannya; 2 cak kata depan untuk menandai waktu: -- hari itu ia tidak datang; 3 Mk akan, kepada: tidak tahu -- jerih orang; 4 Mk dari: jauh -- mata
2. prefiks pembentuk ve
dikenai suatu tindakan: dibeli; dipukul; dites ( sumber : kbbi 3)
Dalam banyak tulisan seringkali penulisan kata di masih terdapat kekeliruan. Kata di yang berfungsi sebagai kata depan sering ditempatkan sebagai prefiks dan sebaliknya. Misalnya dalam kalimat :
"Acara pembukaan di mulai pada pukul 09.00 WIB digedung serbaguna."
Penempatan kata di pada kalimat di atas mestinya dimulai dan di gedung. Mengapa orang masih sulit membedakan fungsi kata di sebagai kata depan dengan fungsi sebagai prefiks? Cara membedakannya sebenarnya mudah. Salah satu cara adalah dengan memerhatikan kata sesudahnya atau kata yang mengikutinya. Jika kata di diikuti kata keterangan tempat atau kata keterangan waktu, maka penulisan kata di dipisahkan dari kata yang mengikutinya itu. Sedangkan jika kata di diikuti kata kerja, maka penulisan kata di disambung dengan kata kerja yang mengikutinya.
Pada dan kepada
Penempatan kata pada dan kepada juga masih banyak keliru. Misalnya pada kalimat :
"Draf Rancangan Undang-undang telah diserahkan Pemerintah pada DPR."
Kata pada dalam kalimat di atas tidak tepat, mestinya digunakan kata kepada. Penggunaan yang keliru untuk kata pada dan kepada seperti ini masih banyak saya temukan. Saya tidak tahu mengapa.
Akhiran kan dan i
Kekeliruan penggunaan akhiran kan dan i juga masih sering saya temukan, baik dalam tulisan maupun dalam ucapan. Misalnya :
"Para undangan disuguhkan pertunjukan tari yang memukau."
Menguji atau mengoreksi tepat-tidaknya akhiran kan dalam kalimat di atas adalah dengan cara bertanya. Apa yang disuguhkan? Siapa yang disuguhi? Dengan pertanyaan itu langsung terjawab. Karena bahasa memiliki 'nilai rasa' maka langsung terasa bahwa :
Tulisan ini sama sekali tidak bertujuan mencari-cari kesalahan siapapun, melainkan hanya sekadar berbagi agar makin banyak perhatian terhadap penggunaan Bahasa Indonesia dalam tulisan maupun ucapan. Ini demi penguatan komitmen menjunjung tinggi bahasa persatuan Bahasa Indonesia, sesuai dengan Sumpah Pemuda.
Dalam banyak tulisan seringkali penulisan kata di masih terdapat kekeliruan. Kata di yang berfungsi sebagai kata depan sering ditempatkan sebagai prefiks dan sebaliknya. Misalnya dalam kalimat :
"Acara pembukaan di mulai pada pukul 09.00 WIB digedung serbaguna."
Penempatan kata di pada kalimat di atas mestinya dimulai dan di gedung. Mengapa orang masih sulit membedakan fungsi kata di sebagai kata depan dengan fungsi sebagai prefiks? Cara membedakannya sebenarnya mudah. Salah satu cara adalah dengan memerhatikan kata sesudahnya atau kata yang mengikutinya. Jika kata di diikuti kata keterangan tempat atau kata keterangan waktu, maka penulisan kata di dipisahkan dari kata yang mengikutinya itu. Sedangkan jika kata di diikuti kata kerja, maka penulisan kata di disambung dengan kata kerja yang mengikutinya.
Pada dan kepada
Penempatan kata pada dan kepada juga masih banyak keliru. Misalnya pada kalimat :
"Draf Rancangan Undang-undang telah diserahkan Pemerintah pada DPR."
Kata pada dalam kalimat di atas tidak tepat, mestinya digunakan kata kepada. Penggunaan yang keliru untuk kata pada dan kepada seperti ini masih banyak saya temukan. Saya tidak tahu mengapa.
Akhiran kan dan i
Kekeliruan penggunaan akhiran kan dan i juga masih sering saya temukan, baik dalam tulisan maupun dalam ucapan. Misalnya :
"Para undangan disuguhkan pertunjukan tari yang memukau."
Menguji atau mengoreksi tepat-tidaknya akhiran kan dalam kalimat di atas adalah dengan cara bertanya. Apa yang disuguhkan? Siapa yang disuguhi? Dengan pertanyaan itu langsung terjawab. Karena bahasa memiliki 'nilai rasa' maka langsung terasa bahwa :
- kata disuguhkan lebih tepat untuk sesuatu, berupa kata benda atau dibendakan.
- kata disuguhi lebih tepat ditujukan kepada seseorang atau sesuatu yang diorangkan.
Tulisan ini sama sekali tidak bertujuan mencari-cari kesalahan siapapun, melainkan hanya sekadar berbagi agar makin banyak perhatian terhadap penggunaan Bahasa Indonesia dalam tulisan maupun ucapan. Ini demi penguatan komitmen menjunjung tinggi bahasa persatuan Bahasa Indonesia, sesuai dengan Sumpah Pemuda.
Senin, 25 Juni 2012
MENGATASI MALAS
Anda Seorang Pemalas? Ini Cara Mengatasinya
Rasa malas bisa dialami oleh semua orang, termasuk kemalasan melakukan kegiatan
penting untuk menuju sukses. Ini ada beberapa gagasan bagaimana mengalahkan
rasa malas anda, dalam segala hal.
Berikut ini ulasan dari pakar marketing, Tung Desem Waringin soal mengatasai kemasalan:
Mereka sibuk dan mereka tetap sibuk karena itu salah satu cara untuk menghindari sesuatu yang tidak ingin mereka hadapi. Ada orang sibuk nonton TV, sibuk memancing, bermain golf, sibuk belanja ke Mall, namun didalam hati mereka ingin menghindari sesuatu hal yang tidak ingin mereka hadapi. Ini adalah bentuk kemalasan yang paling umum.
Malas dengan jalan tetap sibuk. Ada juga orang yang sibuk bekerja keras sehingga tidak perduli dengan istri dan anaknya. Dan ada juga orang yang terlalu sibuk mengurusi kekayaan mereka dan tidak perduli dengan kesehatan mereka. Dan ada orang yang terlalu sibuk mengurusi kesehatan dan tidak perduli lagi terhadap pekerjaan.
Yang menjadi ukuran malas adalah apa yang dianggap penting jauh di dalam lubuk hati mereka, tetapi mereka hindari.
Kata Robert Kiyosaki, 'Obat untuk kemalasan adalah sedikit ketamakan' Seringkali kita mendengar bahwa 'orang tamak adalah orang yang jahat' Namun dalam diri kita semua adalah nafsu/ hasrat untuk memiliki barang-barang baru atau bagus atau hal-hal yang menyenangkan. Jadi agar hasrat itu tetap terkendali, orang tua kita kerap kali menemukan cara-cara untuk menekan hasrat itu dengan cara menciptakan rasa bersalah.
Jadi, setiap kali Anda mendapati diri Anda menghindari sesuatu yang Anda tahu seharusnya Anda lakukan, maka satu-satunya hal yang Anda tanyakan pada diri Anda sendiri adalah 'apa untungnya untuk saya?' Bersikaplah sedikit tamak. Itulah obat yang terbaik untuk kemalasan. Akan tetapi, terlalu tamak, seperti apapun lainnya yang berlebihan, tidaklah baik.
Menurut saya pribadi, bagaimana menghilangkan rasa malas kita harus mempunyai alasan yang sangat kuat. Dan alasan yang sangat kuat adalah menghindari sengsara dan mencari nikmat.
Bila kita sedang malas, bayangkan, dengarkan dan rasakan penderitaan yang amat sangat dengan detail dan emosionil (tulis minimal 10 kerugian) bila kita masih bermalas-malasan atau tidak melakukan hal-hal yang penting, dan bayangkan, dengarkan dan rasakan kenikmatan yang amat sangat secara detail dan emosionil (tulis minimal 10 kenikmatan) bila kita sudah mulai rajin dan melakukan hal-hal yang penting.
Penderitaan dan kenikmatan ini bukan hanya sekarang, tapi 1 tahun kedepan, 5 tahun kedepan, 10 tahun kedepan dan 20 tahun kedepan.
Berikut ini ulasan dari pakar marketing, Tung Desem Waringin soal mengatasai kemasalan:
Mereka sibuk dan mereka tetap sibuk karena itu salah satu cara untuk menghindari sesuatu yang tidak ingin mereka hadapi. Ada orang sibuk nonton TV, sibuk memancing, bermain golf, sibuk belanja ke Mall, namun didalam hati mereka ingin menghindari sesuatu hal yang tidak ingin mereka hadapi. Ini adalah bentuk kemalasan yang paling umum.
Malas dengan jalan tetap sibuk. Ada juga orang yang sibuk bekerja keras sehingga tidak perduli dengan istri dan anaknya. Dan ada juga orang yang terlalu sibuk mengurusi kekayaan mereka dan tidak perduli dengan kesehatan mereka. Dan ada orang yang terlalu sibuk mengurusi kesehatan dan tidak perduli lagi terhadap pekerjaan.
Yang menjadi ukuran malas adalah apa yang dianggap penting jauh di dalam lubuk hati mereka, tetapi mereka hindari.
Kata Robert Kiyosaki, 'Obat untuk kemalasan adalah sedikit ketamakan' Seringkali kita mendengar bahwa 'orang tamak adalah orang yang jahat' Namun dalam diri kita semua adalah nafsu/ hasrat untuk memiliki barang-barang baru atau bagus atau hal-hal yang menyenangkan. Jadi agar hasrat itu tetap terkendali, orang tua kita kerap kali menemukan cara-cara untuk menekan hasrat itu dengan cara menciptakan rasa bersalah.
Jadi, setiap kali Anda mendapati diri Anda menghindari sesuatu yang Anda tahu seharusnya Anda lakukan, maka satu-satunya hal yang Anda tanyakan pada diri Anda sendiri adalah 'apa untungnya untuk saya?' Bersikaplah sedikit tamak. Itulah obat yang terbaik untuk kemalasan. Akan tetapi, terlalu tamak, seperti apapun lainnya yang berlebihan, tidaklah baik.
Menurut saya pribadi, bagaimana menghilangkan rasa malas kita harus mempunyai alasan yang sangat kuat. Dan alasan yang sangat kuat adalah menghindari sengsara dan mencari nikmat.
Bila kita sedang malas, bayangkan, dengarkan dan rasakan penderitaan yang amat sangat dengan detail dan emosionil (tulis minimal 10 kerugian) bila kita masih bermalas-malasan atau tidak melakukan hal-hal yang penting, dan bayangkan, dengarkan dan rasakan kenikmatan yang amat sangat secara detail dan emosionil (tulis minimal 10 kenikmatan) bila kita sudah mulai rajin dan melakukan hal-hal yang penting.
Penderitaan dan kenikmatan ini bukan hanya sekarang, tapi 1 tahun kedepan, 5 tahun kedepan, 10 tahun kedepan dan 20 tahun kedepan.
Sumber :
Tung Desem Waringin - detikfinance
Jumat, 22/06/2012 12:32 WIB
Minggu, 24 Juni 2012
KEMBARANKU
Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang mirip dengan orang lain yang Anda kenal sebelumnya? Atau pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Anda? Kemudian makin lama mengenalnya makin banyak Anda temukan kemiripan Anda berdua? Aku mengalaminya. Ceritakan gak ya? Cerita aja deh, siapa tahu ada di antara Anda yang juga mengalami. Kemudian kita bisa berbagi cerita nanti.
Bermula dari suatu pertemuan keluarga sekitar dua tahun yang lalu. Itu adalah pertemuan pertama setelah perpisahan selama bertahun-tahun. Pada pertemuan hari itu kami, aku dan Ema salah satu saudara perempuanku, pertama kali bertemu saat sama-sama berusia dewasa. Usia kami berjarak 10 tahun, aku lahir lebih dulu dari Ema. Tetapi hari itu aku seperti melihat diriku sendiri, rasanya seperti seumuran dengan Ema. Kami sama-sama merasakan kemiripan fisik kami berdua. Juga semua yang hadir di situ. Pertemuan hari itu hanya beberapa jam. Kemudian berlanjut dengan beberapa kali aku berkunjung. Selebihnya kami berkomunikasi melalui telepon.
Komunikasiku dengan Ema melalui telepon cukup intens. Seringkali aku kangen atau tiba-tiba teringat padanya kemudian meneleponnya. Kami berbagi cerita tentang apa yang kami kerjakan, atau bertukar pendapat tentang berbagai hal. Makin sering berbagi cerita, makin banyak persamaan kami temukan. Misalnya, ternyata kami sama-sama orang yang 'easy going', sama-sama pembosan, artinya jika memulai sesuatu hanya panas-panas **** ayam dan tidak tuntas. Kami juga sama-sama doyan makan, makan apa saja sepanjang masih makanan manusia. Itu sebabnya badan kami juga sama suburnya. Sampai ke hal-hal yang lebih pribadi, seperti, maaf, pakaian dalam. Kami tidak pernah saling mengintip apa dan bagaimana bentuk pakaian dalam masing-masing. Tetapi ketika aku menginap di rumahnya, ketahuanlah dari pakaian yang kucuci dan jemur, ternyata warna, bahan dan model pakaian dalam kami pun serupa. Bagaimana dua orang yang berjarak usia 10 tahun, lahir dan besar di lingkungan yang berbeda, bisa memiliki begitu banyak kemiripan? Berkali-kali kukatakan : "Hai, Kembaranku!" Mulanya Ema tidak sepenuhnya yakin dengan kata "kembar" buat kami berdua. Sampai suatu saat aku meneleponnya dan kami mengobrol. Ternyata dalam kurun waktu yang sama, kami sedang memikirkan dan melakukan hal yang serupa. Saat itu Ema baru benar-benar yakin bahwa kami memang pantas disebut kembar.
Aku dan Ema memang bersaudara. Kami satu ayah meski dikandung dan dilahirkan oleh ibu yang berbeda. Sangat mungkin persamaan dan kemiripan kami adalah hal yang lumrah, biasa saja. Tetapi bagiku, yang anak tunggal ibuku dan telanjur terbiasa merasa 'sendiri' (Jawa : lola), sebatang kara, setelah dewasa mendapati seseorang yang memiliki banyak persamaan dan kemiripan denganku, sungguh luar biasa. Ini membuatku sangat gembira. Rasanya bagaikan menemukan bagian duniaku yang hilang sekian lama. Kini aku tahu, ada seseorang yang sangat peduli padaku, siap memberi dorongan semangat yang kuperlukan, juga tak segan mengeritik karena dia tahu aku takkan keberatan. Bahagianya punya saudara. Bahagianya punya kembaran.
Komunikasiku dengan Ema melalui telepon cukup intens. Seringkali aku kangen atau tiba-tiba teringat padanya kemudian meneleponnya. Kami berbagi cerita tentang apa yang kami kerjakan, atau bertukar pendapat tentang berbagai hal. Makin sering berbagi cerita, makin banyak persamaan kami temukan. Misalnya, ternyata kami sama-sama orang yang 'easy going', sama-sama pembosan, artinya jika memulai sesuatu hanya panas-panas **** ayam dan tidak tuntas. Kami juga sama-sama doyan makan, makan apa saja sepanjang masih makanan manusia. Itu sebabnya badan kami juga sama suburnya. Sampai ke hal-hal yang lebih pribadi, seperti, maaf, pakaian dalam. Kami tidak pernah saling mengintip apa dan bagaimana bentuk pakaian dalam masing-masing. Tetapi ketika aku menginap di rumahnya, ketahuanlah dari pakaian yang kucuci dan jemur, ternyata warna, bahan dan model pakaian dalam kami pun serupa. Bagaimana dua orang yang berjarak usia 10 tahun, lahir dan besar di lingkungan yang berbeda, bisa memiliki begitu banyak kemiripan? Berkali-kali kukatakan : "Hai, Kembaranku!" Mulanya Ema tidak sepenuhnya yakin dengan kata "kembar" buat kami berdua. Sampai suatu saat aku meneleponnya dan kami mengobrol. Ternyata dalam kurun waktu yang sama, kami sedang memikirkan dan melakukan hal yang serupa. Saat itu Ema baru benar-benar yakin bahwa kami memang pantas disebut kembar.
Aku dan Ema memang bersaudara. Kami satu ayah meski dikandung dan dilahirkan oleh ibu yang berbeda. Sangat mungkin persamaan dan kemiripan kami adalah hal yang lumrah, biasa saja. Tetapi bagiku, yang anak tunggal ibuku dan telanjur terbiasa merasa 'sendiri' (Jawa : lola), sebatang kara, setelah dewasa mendapati seseorang yang memiliki banyak persamaan dan kemiripan denganku, sungguh luar biasa. Ini membuatku sangat gembira. Rasanya bagaikan menemukan bagian duniaku yang hilang sekian lama. Kini aku tahu, ada seseorang yang sangat peduli padaku, siap memberi dorongan semangat yang kuperlukan, juga tak segan mengeritik karena dia tahu aku takkan keberatan. Bahagianya punya saudara. Bahagianya punya kembaran.
Jumat, 22 Juni 2012
HIDUP ITU MENYENANGKAN?
Hidup memang tidak mudah. Aku mengangguk berulang kali, mungkin benar juga kata-kata itu. Hidup memang tidak mudah. Tidak peduli bagi orang kaya atau miskin, pintar atau bodoh, orang yang memiliki banyak kelebihan atau sebaliknya, bagi orang yang dianggap suci atau pendosa. Hidup seolah tidak pernah memilih 'korbannya' untuk diuji. Membuat kehidupan manusia tidak mudah. naik-turun bergelombang. Seperti slogan iklan sejenis keripik : Life is never flat. Ada kesempatan jeda, ketika manusia dibiarkan merasakan kesenangan, ketenteraman, kedamaian, kemudahan. Tetapi itu tidak pernah bertahan lama. Setelah manusia tersenyum dan tertawa, segera datang takut, sedih dan tangis. Lebih tidak mudah lagi, karena manusia takkan pernah tahu kapan ujian berakhir kemudian berganti dengan ujian berikutnya. Apakah ujian berikutnya lebih berat atau lebih ringan? Kapan saatnya jeda dan berapa lama?
Manusia menjalani hidup dengan beragam cara. Sebagian orang membuat hidup mereka menjadi seolah lebih sederhana, lebih mudah. Bagi mereka, hidup terlalu berharga untuk dibebani dengan gerutu, keluh-kesah dan sumpah-serapah. Tak ada waktu untuk bermacam-macam alasan menunda dan mermalas-malasan. Tak terlintas dalam benak mereka keraguan dan pesimisme. Tak ada tempat dalam hati mereka rasa takut dan minder. Seakan-akan mereka selalu dapat menyelesaikan masalah dengan mudah. Seakan-akan masalah adalah menu sarapan, makan siang dan makan malam mereka. Artinya, masalah mereka di pagi hari selesai pagi itu juga. Ketika makan siang masalah sudah berganti yang baru dan selesai siang itu juga. Demikian pula masalah di malam hari beda lagi, tetapi bisa diselesaikan malam itu juga. Besok pagi adalah hari yang baru dengan masalah yang baru pula, dan seterusnya.
Pertanyaannya, mengapa mereka bisa? Bagaimana mereka bisa? Mengapa banyak orang lain tidak bisa? Bukankah semua orang punya kesempatan yang sama? Karena kemampuan manusia berbeda-beda.
Kata Pak Ustad, Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi selalu ada bekal dasar sebagai alat untuk menjalani kehidupan, menghadapi ujian, yakni akal, nurani dan nafsu. Secara imajiner, nurani berada di sebelah kanan, akal di tengah, nafsu di kiri. Jika diletakkan pada segi tiga, maka nurani berada di sudut sebelah kanan, akal berada di sudut puncak segi tiga, nafsu di sudut sebelah kiri. Segi tiga itu seperti garis yang menghubungkan ujung jari tangan kanan ke kepala, kemudian ke ujung jari tangan kiri, ketika seseorang membentangkan kedua tangan ke bawah, masing-masing tangan membentuk sudut 45 derajat dari badannya. Dalam konteks ini, ketiganya merupakan simbol. Nurani adalah simbol sumber kebaikan yang selalu mengarahkan manusia pada kebaikan, sebaliknya nafsu adalah simbol sumber kejahatan yang selalu menyeret manusia kepada hal buruk. Tuhan membekali manusia dengan akal untuk berpikir, menimbang, manakah yang akan dia turuti, nuraninya atau nafsunya. Penggunaan ketiga alat itu sepenuhnya tergantung pada manusianya. Mana yang lebih dominan akan mempengaruhi pola pikir, sikap, ucapan dan tindakannya.
Manusia menjalani hidup dengan beragam cara. Sebagian orang membuat hidup mereka menjadi seolah lebih sederhana, lebih mudah. Bagi mereka, hidup terlalu berharga untuk dibebani dengan gerutu, keluh-kesah dan sumpah-serapah. Tak ada waktu untuk bermacam-macam alasan menunda dan mermalas-malasan. Tak terlintas dalam benak mereka keraguan dan pesimisme. Tak ada tempat dalam hati mereka rasa takut dan minder. Seakan-akan mereka selalu dapat menyelesaikan masalah dengan mudah. Seakan-akan masalah adalah menu sarapan, makan siang dan makan malam mereka. Artinya, masalah mereka di pagi hari selesai pagi itu juga. Ketika makan siang masalah sudah berganti yang baru dan selesai siang itu juga. Demikian pula masalah di malam hari beda lagi, tetapi bisa diselesaikan malam itu juga. Besok pagi adalah hari yang baru dengan masalah yang baru pula, dan seterusnya.
Pertanyaannya, mengapa mereka bisa? Bagaimana mereka bisa? Mengapa banyak orang lain tidak bisa? Bukankah semua orang punya kesempatan yang sama? Karena kemampuan manusia berbeda-beda.
Kata Pak Ustad, Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi selalu ada bekal dasar sebagai alat untuk menjalani kehidupan, menghadapi ujian, yakni akal, nurani dan nafsu. Secara imajiner, nurani berada di sebelah kanan, akal di tengah, nafsu di kiri. Jika diletakkan pada segi tiga, maka nurani berada di sudut sebelah kanan, akal berada di sudut puncak segi tiga, nafsu di sudut sebelah kiri. Segi tiga itu seperti garis yang menghubungkan ujung jari tangan kanan ke kepala, kemudian ke ujung jari tangan kiri, ketika seseorang membentangkan kedua tangan ke bawah, masing-masing tangan membentuk sudut 45 derajat dari badannya. Dalam konteks ini, ketiganya merupakan simbol. Nurani adalah simbol sumber kebaikan yang selalu mengarahkan manusia pada kebaikan, sebaliknya nafsu adalah simbol sumber kejahatan yang selalu menyeret manusia kepada hal buruk. Tuhan membekali manusia dengan akal untuk berpikir, menimbang, manakah yang akan dia turuti, nuraninya atau nafsunya. Penggunaan ketiga alat itu sepenuhnya tergantung pada manusianya. Mana yang lebih dominan akan mempengaruhi pola pikir, sikap, ucapan dan tindakannya.
Rabu, 20 Juni 2012
MAKANAN KHAS
Indonesia kaya dengan kuliner dari berbagai daerah. Banyak diantaranya sudah sangat dikenal karena banyak dijumpai di restauran, warung makan, atau pedagang kaki lima. Misalnya, Sate Madura, Soto Banjar, Dawet Ayu Banjarnegara. Orang pasti langsung paham jika disebut Lumpia Semarang, Gudeg Yogya, atau Bakwan Malang. Akan kuceritakan beberapa kuliner khas daerah yang kutahu, artinya aku pernah memakan dan memasaknya. Dalam tulisan ini aku tidak menyertakan resepnya. Jika diperlukan akan kutulis pada kesempatan lain.
JAGUNG BOSE, DAGING SE'I DAN SAYUR BUNGA PEPAYA KHAS NTT.
Jagung Bose adalah masakan berbahan jagung, berfungsi sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi, merupakan kuliner khas masyarakat di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dapat dikonsumsi sehari-hari, juga seringkali disajikan pada acara pesta atau jamuan bagi tamu. Jagung yang digunakan biasanya jenis jagung lokal. Menu utama pelengkap Jagung Bose adalah Daging Se'i, sayur Bunga Pepaya, urap sayuran, sambal Kurus-Garam dan ikan bakar. Jagung Bose rasanya empuk dan gurih, karena direbus bersama santan. Seringkali dicampurkan Kacang Turis (Jw : kacang Gude).
Daging Se'i adalah daging sapi asap. Bentuknya panjang-panjang selebar dua jari. Sebelum dimasak dipotong-potong sesuai selera pemasaknya. Daging Se'i cocok dimasak tumis, sambal goreng, atau bumbu kecap pedas. Sangat enak dicampur daun bawang merah.
Sayur Bunga Pepaya adalah sayur berbahan utama bunga pepaya. Biasanya ditumis bersama kangkung. Bunga pepaya banyak terdapat di Kupang, ibukota Provinsi NTT. Sebelum ditumis, bunga pepaya harus direbus dahulu untuk menghilangkan getahnya. Saat merebus dicampur dengan daun kedondong untuk menghilangkan rasa pahitnya. Bagi yang menyukai pahitnya, saat merebus bunga pepaya tidak dicampur apapun.
Sambal Kurus-Garam adalah sambal cabe rawit. Masyarakat di Kupang, atau Pulau Timor pada umumnya menyebut cabe rawit adalah 'kurus'. Cabe rawit di sana ukurannya sangat kecil, dengan panjang 1-1,5 cm. Tetapi pedasnya luar biasa. Cabe kurus ini ditumbuk, diberi garam dan jeruk nipis, jadilah sambal Kurus-Garam.
PELECING KANGKUNG LOMBOK
Kangkung Lombok adalah kangkung istimewa. Batangnya besar tetapi sangat cepat empuk jika terkena air mendidih. Maka kangkung Lombok tidak perlu direbus, cukup dicelupkan 1-2 menit ke dalam air mendidih. Kemudian diberi taoge rebus dan bumbu pelecing, taburkan kelapa parut, jadilah Pelecing Kangkung khas Lombok. Bumbu pelecing mirip dengan bumbu pecel lele dengan rasa dan aroma terasi yang khas. Mmm, nyam-nyam.
JAGUNG BOSE, DAGING SE'I DAN SAYUR BUNGA PEPAYA KHAS NTT.
Jagung Bose adalah masakan berbahan jagung, berfungsi sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi, merupakan kuliner khas masyarakat di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dapat dikonsumsi sehari-hari, juga seringkali disajikan pada acara pesta atau jamuan bagi tamu. Jagung yang digunakan biasanya jenis jagung lokal. Menu utama pelengkap Jagung Bose adalah Daging Se'i, sayur Bunga Pepaya, urap sayuran, sambal Kurus-Garam dan ikan bakar. Jagung Bose rasanya empuk dan gurih, karena direbus bersama santan. Seringkali dicampurkan Kacang Turis (Jw : kacang Gude).
Daging Se'i adalah daging sapi asap. Bentuknya panjang-panjang selebar dua jari. Sebelum dimasak dipotong-potong sesuai selera pemasaknya. Daging Se'i cocok dimasak tumis, sambal goreng, atau bumbu kecap pedas. Sangat enak dicampur daun bawang merah.
Sayur Bunga Pepaya adalah sayur berbahan utama bunga pepaya. Biasanya ditumis bersama kangkung. Bunga pepaya banyak terdapat di Kupang, ibukota Provinsi NTT. Sebelum ditumis, bunga pepaya harus direbus dahulu untuk menghilangkan getahnya. Saat merebus dicampur dengan daun kedondong untuk menghilangkan rasa pahitnya. Bagi yang menyukai pahitnya, saat merebus bunga pepaya tidak dicampur apapun.
Sambal Kurus-Garam adalah sambal cabe rawit. Masyarakat di Kupang, atau Pulau Timor pada umumnya menyebut cabe rawit adalah 'kurus'. Cabe rawit di sana ukurannya sangat kecil, dengan panjang 1-1,5 cm. Tetapi pedasnya luar biasa. Cabe kurus ini ditumbuk, diberi garam dan jeruk nipis, jadilah sambal Kurus-Garam.
PELECING KANGKUNG LOMBOK
Kangkung Lombok adalah kangkung istimewa. Batangnya besar tetapi sangat cepat empuk jika terkena air mendidih. Maka kangkung Lombok tidak perlu direbus, cukup dicelupkan 1-2 menit ke dalam air mendidih. Kemudian diberi taoge rebus dan bumbu pelecing, taburkan kelapa parut, jadilah Pelecing Kangkung khas Lombok. Bumbu pelecing mirip dengan bumbu pecel lele dengan rasa dan aroma terasi yang khas. Mmm, nyam-nyam.
Selasa, 19 Juni 2012
BUNGA RAMPAI
DILARANG TIDUR BERSAMA HEWAN PELIHARAAN!
Banyak orang suka memelihara hewan dan menjadi sangat intim dengan hewan peliharaannya. Namun jangan biarkan keintiman dengan hewan kesayangan menjadi penyebab berjangkitnya penyakit, terutama karena manusia tidur bersama hewan. Mengapa? Sebab kebiasaan tidur bersama hewan peliharaan dapat mengganggu kesehatan fisik dan kenyamanan tidur.
Penelitian Dr. John Shepard, direktur medis Mayo Clinic Sleep Disorders Center menemukan bahwa sekitar 22 persen pasiennya mendapatkan gangguan tidur akibat ada hewan yang tidur persis di sampingnya. Karena dengkuran dan embusan napas dari anjing dan kucing membuat udara di kamar menjadi tidak nyaman.
Binatang peliharaan seperti anjing dan kucing dapat membawa parasit tertentu, seperti jamur dan kudis yang dapat menular ke manusia. Derek Damin dari Kentuckiana Allergy, Asthma & Immunology di Louisville menyatakan, hewan dapat memicu risiko kambuhnya asma dan alergi. Karena itu bagi para penderita asma disarankan memvaksin tubuhnya sebelum berdekatan dengan hewan peliharaannya. Jika punya bayi, usahakan agar selalu menjaga kebersihan kamar dan menghindarkan bayi dari kontak langsung dengan hewan. (Dikutip dari : Koran Rakyat Edisi 83, Pebruari 2011).
BENARKAH ANDA MASIH LAPAR?
Apakah Anda pernah merasa masih lapar meski baru beberapa menit sebelumnya makan? Baru saja makan, namun cepat merasa lapar lagi. Akibatnya, Anda mulai ngemil dan angka timbangan badan meningkat. Pertanyaannya adalah : Benarkah Anda masih lapar? Jawabnya : TIDAK! Alasan Anda 'mengira' masih lapar adalah : TIDAK CUKUP TIDUR.
Saat tubuh lelah dan tak cukup tidur, maka tubuh akan kekurangan energi, dan leptin-suatu hormon yang mengontrol nafsu makan-meningkat drastis jumlahnya. Menurut Karen Ansel, seorang ahli diet dari Amerika, seperti dikutip dari Womansday, hormon ini kemudian membuat pikiran menjadi cepat lapar. Tubuh sebenarnya sudah cukup kenyang, namun pikiran sepertinya tak pernah kenyang. Alhasil, karena pikiran belum memerintahkan berhenti makan, maka Anda masih merasa lapar. (Sumber : Koran Rakyat Edisi 83, Pebruari 2011).
Banyak orang suka memelihara hewan dan menjadi sangat intim dengan hewan peliharaannya. Namun jangan biarkan keintiman dengan hewan kesayangan menjadi penyebab berjangkitnya penyakit, terutama karena manusia tidur bersama hewan. Mengapa? Sebab kebiasaan tidur bersama hewan peliharaan dapat mengganggu kesehatan fisik dan kenyamanan tidur.
Penelitian Dr. John Shepard, direktur medis Mayo Clinic Sleep Disorders Center menemukan bahwa sekitar 22 persen pasiennya mendapatkan gangguan tidur akibat ada hewan yang tidur persis di sampingnya. Karena dengkuran dan embusan napas dari anjing dan kucing membuat udara di kamar menjadi tidak nyaman.
Binatang peliharaan seperti anjing dan kucing dapat membawa parasit tertentu, seperti jamur dan kudis yang dapat menular ke manusia. Derek Damin dari Kentuckiana Allergy, Asthma & Immunology di Louisville menyatakan, hewan dapat memicu risiko kambuhnya asma dan alergi. Karena itu bagi para penderita asma disarankan memvaksin tubuhnya sebelum berdekatan dengan hewan peliharaannya. Jika punya bayi, usahakan agar selalu menjaga kebersihan kamar dan menghindarkan bayi dari kontak langsung dengan hewan. (Dikutip dari : Koran Rakyat Edisi 83, Pebruari 2011).
BENARKAH ANDA MASIH LAPAR?
Apakah Anda pernah merasa masih lapar meski baru beberapa menit sebelumnya makan? Baru saja makan, namun cepat merasa lapar lagi. Akibatnya, Anda mulai ngemil dan angka timbangan badan meningkat. Pertanyaannya adalah : Benarkah Anda masih lapar? Jawabnya : TIDAK! Alasan Anda 'mengira' masih lapar adalah : TIDAK CUKUP TIDUR.
Saat tubuh lelah dan tak cukup tidur, maka tubuh akan kekurangan energi, dan leptin-suatu hormon yang mengontrol nafsu makan-meningkat drastis jumlahnya. Menurut Karen Ansel, seorang ahli diet dari Amerika, seperti dikutip dari Womansday, hormon ini kemudian membuat pikiran menjadi cepat lapar. Tubuh sebenarnya sudah cukup kenyang, namun pikiran sepertinya tak pernah kenyang. Alhasil, karena pikiran belum memerintahkan berhenti makan, maka Anda masih merasa lapar. (Sumber : Koran Rakyat Edisi 83, Pebruari 2011).
Senin, 18 Juni 2012
DIALEK
Berkaitan dengan dialek, aku punya pengalaman menarik. Beberapa kejadian berbeda di tempat dan waktu berbeda. Itu karena aku bisa berbicara dalam beberapa dialek bahasa; dialek Kupang Nusa Tenggara Timur (bukan Kupang Surabaya Jawa Timur), dialek Bali, dialek Lombok, dialek Makasar, dialek Jawa Surabaya, dialek Jawa Banyumas, dialek Jawa Solo dan Yogya, dialek Sunda.
Seringkali orang yang baru mengenalku bingung. Mereka tidak bisa langsung mengetahui dari daerah mana aku berasal. Kepada beberapa di antara mereka aku sengaja tidak langsung memberitahu dan meminta mereka menebak. Bisa ditebak, kebanyakan tebakan mereka salah. Namanya juga tebak-tebakan. Ada yang menebak aku orang Makasar, orang Sunda, orang Solo, orang Yogya. Menariknya, tidak ada yang langsung percaya jika kukatakan aku asli Banyumas, entah mengapa. Mereka baru percaya setelah kubuktikan aku bisa berbicara dengan dialek Jawa Banyumas yang "ngapak-ngapak" itu. Pada kesempatan lain, ada orang NTT sendiri terkejut ketika aku bicara dengan mereka, di Jakarta, dengan dialek Kupang yang kental. Katanya, dia baru bertemu satu orang di Jakarta (maksudnya di luar wilayah Kupang atau NTT), yang bentuk dan penampilannya tidak seperti orang Kupang, tetapi bicara dalam dialek Kupang sama "medok"nya dengan dia.
Kemampuanku bicara dalam beberapa dialek bahasa dan bicara sesuai dengan dialek lawan bicara sangat berguna dalam pekerjaanku. Aku bekerja di Pusat Pemberitaan Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI), saat ini sebagai produser pelaksana di studio Pro 3 Jaringan Berita Nasional. Karena sistemya berjaringan, seringkali aku harus berkoordinasi dengan teman-teman di daerah-daerah seindonesia, dari RRI Sabang sampai RRI Merauke. Ketika aku berbicara melalui telepon dengan teman-teman dari RRI mana pun, kami bisa langsung akrab, terasa dekat. Teman di seberang sana merasa seolah-olah aku berada di sebelahnya di sana, bukan di Jakarta. Karena aku berbicara dalam dialek mereka. Alhasil, koordinasi menjadi lebih mudah dan lancar.
Beberapa dialek yang kubisa itu karena aku pernah tinggal di daerahnya. Di Kupang NTT aku pernah tinggal selama 14 tahun, di Bali enam bulan, di Lombok tiga tahun. Aku juga pernah tinggal di Cimahi Jawa Barat selama lima tahun, maka aku bisa dialek Sunda. Dialek Banyumas lekat di lidahku karena aku lahir di sana. Selebihnya aku bisa dialek bahasa yang lain karena sering berbicara dengan pengguna bahasanya. Lidahku seperti bunglon, bisa segera menyesuaikan dengan dialek lawan bicara.
Kalau begitu, mestinya aku gaul bareng bule ya, biar cepet bisa cas-cis-cus dengan bahasa Inggris. Atau gaul bareng komunitas yang berbahasa Inggris. Hari gini belum lancar ngomong Inggris malu juga sebenernya. Ini bikin aku tidak PD juga. Adakah komunitas berbahasa Inggris yang mau bantu aku?
Ngomong-ngomong soal dialek, aku merujuk pada makna kata dialek dan penjelasannya yang termuat dalam Artikata.com. Di bawah ini kutipannya.
Dialek bermakna variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai. Misalnya bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu atau kurun waktu tertentu. Diantaranya Dialek Regional yang cirinya dibatasi oleh tempat, misalnya dialek Melayu Manado, dialek Jawa Banyumas. Selain itu ada Dialek Sosial yakni dialek yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu, misalnya dialek wanita dalam bahasa Jepang. Ada lagi Dialek Temporal yakni dialek dari bahasa yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, misalnya yang lazim disebut bahasa Melayu Kuno, Melayu Klasik dan Melayu Modern, masing-masing adalah Dialek Temporal dari Bahasa Melayu. Ada juga Dialek Tinggi yakni variasi sosial atau regional suatu bahasa yang diterima sebagai standar bahasa itu dan dianggap lebih tinggi dari pada dialek-dialek lain.(Artikata.com).
Minggu, 17 Juni 2012
TUKANG CUKUR
Siang tadi aku kecele ketika sampai di depan kios tukang cukur langgananku. Bukan karena kios tutup karena hari ini Minggu. Kios itu siang tadi kosong, benar-benar kosong. Tidak ada sesuatu pun yang menandakan di situ pernah ada kursi-kursi, cermin di sepanjang salah satu sisi dindingnya, peralatan mencukur yang manual dan yang menggunakan listrik.
Setelah kuperhatikan, ternyata kios sebelahnya juga kosong. Kios yang satu ini bekas bengkel motor. Di situ juga sudah tidak ada lagi peralatan bengkel dan tidak ada motor. Yang tersisa hanya bekas oli di lantai dan sebagian dinding. Beberapa bagian langit-langitnya rusak. Ada triplek yang menganga, ada yang sampai menjuntai tergantung pada satu-satunya paku yang tersisa. Lisplang di bagian depan kios juga rusak.
Dua kios kosong itu adalah bagian dari sederet kios yang terdiri atas lima kios. Paling ujung kiri adalah kios buah, sebelah kanannya kios tukang cukur. Kemudian berurutan kios bengkel motor, kios beras, dan paling kanan kios warteg. Selain kios tukang cukur dan kios bengkel, semua kios di situ masih ada dan berjualan seperti biasa.
Di sebelah kiri depan dari kios buah terdapat lapak koran. Bang Jek, si pemilik lapak koran itu mendekatiku ketika melihatku bengong di depan kios tukang cukur. Aku langsung menyapanya.
"Hai, Bang. Tukang cukurnya pindah ya?"
"Iya, Bu."
"Ini kiosnya emang sengaja dikosongin? Mau dibenerin?"
"Iya, Bu. Ini mo dibenerin sama yang punya. Abis kayaknya udah banyak yang rusak."
"Trus tukang cukur ini pindah kemana?"
"Pindah ke sana, deket mesjid?"
"Ooo, gitu. Ya udah deh, Bang, makasih ya."
"Ya, Bu."
Aku beranjak dari depan kios tukang cukur yang kini sudah kosong, berbalik arah, pulang.
Mulanya aku berniat potong rambut di situ. Rambutku sudah gondrong. Ujung poniku sudah mencapai mata dan sering mengganggu pandanganku. Itu menandakan bahwa sudah waktunya aku potong rambut. Aku suka potong rambut di situ karena yang terdekat, hanya berjarak 100 meter dari tempat tinggalku.
Masih kuingat ketika pertama kali potong rambut di situ. Ketika aku masuk pemiliknya, Bang Rahmat, sedang mencukur rambut seorang pelanggan, seorang laki-laki berbadan besar. Usianya kira-kira 40 tahun. Rambutnya dipotong cepak seperti tentara. Kursi sebelahnya seorang laki-laki sedang mencukur rambut seorang bocah, sekitar delapan tahun. Kedua tukang cukur yang sedang bekerja itu sekilas melihatku dari cermin di depan mereka tanpa menoleh ke arahku. Kemudian melanjutkan pekerjaan mereka. Aku duduk di kursi yang tepat berada di belakang kursi pelanggan yang sedang ditangani Bang Rahmat, berjarak tiga langkah darinya.
Ruangan dalam kios itu berukuran 3 x 5 meter persegi. Bagian depan terdapat pintu dan jendela kaca selebar dinding. Tidak ada tulisan apapun di kaca jendela itu. Tidak ada nama barbershop atau tulisan lain. Dinding sebelah kiri dipenuhi cermin. Berhadapan dengan cermin ada dua kursi pelanggan. Kursi pelanggan ini besar dan empuk, ada sandaran kaki. Tampaknya pelanggan yang dudukdi situ cukup nyaman. Tiga langkah di belakang kursi pelanggan berderet lima buah kursi antrian pelanggan atau pengantarnya. Kursi yang ini adalah kursi plastik tanpa sandaran. Tetapi karena letaknya dekat dinding jadi orang yang duduk di situ dapat bersandar pada dinding. Ada dua kursi plastik lagi di ruangan itu. letaknya di dekat dinding belakang. Di depannya ada satu meja kecil. Belakangan kutahu meja itu berfungsi sebagai meja kasir.
Di sebelahku duduk seorang perempuan. Usianya sekitar tiga puluhan. Dia sibuk meneriaki seorang bocah. Bocah ini lebih muda dari bocah yang sedang dicukur, usianya sekitar tiga tahun. Rupanya yang sedang dicukur itu adalah kakaknya, karena sang ibu berkali-kali berkata dengan lantang. lebih tepat berteriak.
"Rafi, jangan ganggu kakak! Sini duduk sama Mama!"
Rafi, sang adik, hanya menoleh sejenak ke arah mamanya. Kemudian melompat-lompat di dekat kursi yang diduduki kakaknya. Ia ingin melihat bayangan kakaknya di cermin. Sedangkan ia belum cukup tinggi untuk dapat melihat cermin tanpa melompat.
Tak lama kemudian masuk seorang laki-laki. Dia langsung duduk disebelahku. Aku mengambil koran yang tergeletak di meja dan membacanya. Koran kota terbitan hari itu. aku langsung mencari iklan rumah, yang dijual atau dikontrakkan. Siapa tahu ada yang menarik. Kalau lokasinya mudah dijangkau dan harganya cocok, mungkin aku bisa pindah.
Selagi aku membalik-balik koran, Bang Rahmat selesai mencukur laki-laki berbadan besar itu. Dia langsung menyilakan laki-laki di sebelahku untuk dicukur berikutnya. Serta merta aku berdiri dan memberitahunya bahwa akulah yang harus dicukurnya lebih dulu, laki-laki di sebelahku itu datang belakangan. Bang Rahmat terkejut. Dia tidak mengira aku, seorang perempuan, berjilbab pula, mau cukur rambut di tempatnya. Semula dia mengira aku hanya mengantar. Di terdiam sejenak. Lalu kuulangi bahwa aku memang bermaksud memotong rambut di situ. Baru dia menyilakanku maju ke kursi cukurnya.
Sambil melepas penutup kepalaku, kujelaskan kepada Bang Rahmat bahwa aku ingin rambutku dicukur pendek seperti laki-laki. Bang Rahmat sempat ragu-ragu, tetapi kuyakinkan bahwa aku nyaman dengan potongan rambut seperti itu. Kuminta dia tidak usah sungkan, anggap saja kepalaku ini adalah kepala laki-laki. Kemudian mulailah Bang Rahmat mencukur rambutku. Sejak itu, sebulan sekali aku menjadi pelanggan tetapnya.
Tetapi hari ini aku hanya mendapati kiosnya kosong. Aku akan mencarinya ke dekat masjid yang ditunjuk bang Jek, tukang koran tadi siang.
Setelah kuperhatikan, ternyata kios sebelahnya juga kosong. Kios yang satu ini bekas bengkel motor. Di situ juga sudah tidak ada lagi peralatan bengkel dan tidak ada motor. Yang tersisa hanya bekas oli di lantai dan sebagian dinding. Beberapa bagian langit-langitnya rusak. Ada triplek yang menganga, ada yang sampai menjuntai tergantung pada satu-satunya paku yang tersisa. Lisplang di bagian depan kios juga rusak.
Dua kios kosong itu adalah bagian dari sederet kios yang terdiri atas lima kios. Paling ujung kiri adalah kios buah, sebelah kanannya kios tukang cukur. Kemudian berurutan kios bengkel motor, kios beras, dan paling kanan kios warteg. Selain kios tukang cukur dan kios bengkel, semua kios di situ masih ada dan berjualan seperti biasa.
Di sebelah kiri depan dari kios buah terdapat lapak koran. Bang Jek, si pemilik lapak koran itu mendekatiku ketika melihatku bengong di depan kios tukang cukur. Aku langsung menyapanya.
"Hai, Bang. Tukang cukurnya pindah ya?"
"Iya, Bu."
"Ini kiosnya emang sengaja dikosongin? Mau dibenerin?"
"Iya, Bu. Ini mo dibenerin sama yang punya. Abis kayaknya udah banyak yang rusak."
"Trus tukang cukur ini pindah kemana?"
"Pindah ke sana, deket mesjid?"
"Ooo, gitu. Ya udah deh, Bang, makasih ya."
"Ya, Bu."
Aku beranjak dari depan kios tukang cukur yang kini sudah kosong, berbalik arah, pulang.
Mulanya aku berniat potong rambut di situ. Rambutku sudah gondrong. Ujung poniku sudah mencapai mata dan sering mengganggu pandanganku. Itu menandakan bahwa sudah waktunya aku potong rambut. Aku suka potong rambut di situ karena yang terdekat, hanya berjarak 100 meter dari tempat tinggalku.
Masih kuingat ketika pertama kali potong rambut di situ. Ketika aku masuk pemiliknya, Bang Rahmat, sedang mencukur rambut seorang pelanggan, seorang laki-laki berbadan besar. Usianya kira-kira 40 tahun. Rambutnya dipotong cepak seperti tentara. Kursi sebelahnya seorang laki-laki sedang mencukur rambut seorang bocah, sekitar delapan tahun. Kedua tukang cukur yang sedang bekerja itu sekilas melihatku dari cermin di depan mereka tanpa menoleh ke arahku. Kemudian melanjutkan pekerjaan mereka. Aku duduk di kursi yang tepat berada di belakang kursi pelanggan yang sedang ditangani Bang Rahmat, berjarak tiga langkah darinya.
Ruangan dalam kios itu berukuran 3 x 5 meter persegi. Bagian depan terdapat pintu dan jendela kaca selebar dinding. Tidak ada tulisan apapun di kaca jendela itu. Tidak ada nama barbershop atau tulisan lain. Dinding sebelah kiri dipenuhi cermin. Berhadapan dengan cermin ada dua kursi pelanggan. Kursi pelanggan ini besar dan empuk, ada sandaran kaki. Tampaknya pelanggan yang dudukdi situ cukup nyaman. Tiga langkah di belakang kursi pelanggan berderet lima buah kursi antrian pelanggan atau pengantarnya. Kursi yang ini adalah kursi plastik tanpa sandaran. Tetapi karena letaknya dekat dinding jadi orang yang duduk di situ dapat bersandar pada dinding. Ada dua kursi plastik lagi di ruangan itu. letaknya di dekat dinding belakang. Di depannya ada satu meja kecil. Belakangan kutahu meja itu berfungsi sebagai meja kasir.
Di sebelahku duduk seorang perempuan. Usianya sekitar tiga puluhan. Dia sibuk meneriaki seorang bocah. Bocah ini lebih muda dari bocah yang sedang dicukur, usianya sekitar tiga tahun. Rupanya yang sedang dicukur itu adalah kakaknya, karena sang ibu berkali-kali berkata dengan lantang. lebih tepat berteriak.
"Rafi, jangan ganggu kakak! Sini duduk sama Mama!"
Rafi, sang adik, hanya menoleh sejenak ke arah mamanya. Kemudian melompat-lompat di dekat kursi yang diduduki kakaknya. Ia ingin melihat bayangan kakaknya di cermin. Sedangkan ia belum cukup tinggi untuk dapat melihat cermin tanpa melompat.
Tak lama kemudian masuk seorang laki-laki. Dia langsung duduk disebelahku. Aku mengambil koran yang tergeletak di meja dan membacanya. Koran kota terbitan hari itu. aku langsung mencari iklan rumah, yang dijual atau dikontrakkan. Siapa tahu ada yang menarik. Kalau lokasinya mudah dijangkau dan harganya cocok, mungkin aku bisa pindah.
Selagi aku membalik-balik koran, Bang Rahmat selesai mencukur laki-laki berbadan besar itu. Dia langsung menyilakan laki-laki di sebelahku untuk dicukur berikutnya. Serta merta aku berdiri dan memberitahunya bahwa akulah yang harus dicukurnya lebih dulu, laki-laki di sebelahku itu datang belakangan. Bang Rahmat terkejut. Dia tidak mengira aku, seorang perempuan, berjilbab pula, mau cukur rambut di tempatnya. Semula dia mengira aku hanya mengantar. Di terdiam sejenak. Lalu kuulangi bahwa aku memang bermaksud memotong rambut di situ. Baru dia menyilakanku maju ke kursi cukurnya.
Sambil melepas penutup kepalaku, kujelaskan kepada Bang Rahmat bahwa aku ingin rambutku dicukur pendek seperti laki-laki. Bang Rahmat sempat ragu-ragu, tetapi kuyakinkan bahwa aku nyaman dengan potongan rambut seperti itu. Kuminta dia tidak usah sungkan, anggap saja kepalaku ini adalah kepala laki-laki. Kemudian mulailah Bang Rahmat mencukur rambutku. Sejak itu, sebulan sekali aku menjadi pelanggan tetapnya.
Tetapi hari ini aku hanya mendapati kiosnya kosong. Aku akan mencarinya ke dekat masjid yang ditunjuk bang Jek, tukang koran tadi siang.
Sabtu, 16 Juni 2012
KONTEMPLASI
Orang yang merasa masih hijau akan tumbuh menjadi ranum dan matang, orang yang merasa sudah matang tinggal menunggu saatnya membusuk. Begitu kata-kata bijak yang pernah kudengar. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Itu kata-kata bijak lainnya. Dua kalimat bijak itu sesuai benar dengan yang sedang terjadi pada diriku.
Tiga tahun lagi usiaku setengah abad. Mestinya di usia ini aku tinggal menikmati hasil kerja keras selama 30 tahun sebelumnya. Seperti orang lain yang sejak muda kerja keras demi mencapai cita-cita atau tujuan mereka. Itu karena mereka tahu betul tujuannya, apa yang harus dilakukan dan bagaimana mencapai tujuan. Aku hingga kini masih harus bekerja keras, tetapi belum sampai kemana pun. Cita-citaku hanya tinggal kenangan, hidupku mengalir tanpa arah. Karenanya aku belum menghasilkan karya apapun, belum berguna bagi siapa pun, bahkan untuk diriku sendiri. Aku ternyata hanya bertambah tua, tetapi tidak bertumbuh dewasa. Padahal, menjadi dewasa adalah pilihan.
Beruntung, sebelum telanjur "membusuk" aku "menemukan cermin" yang dapat menunjukkan bagian diriku yang berhenti bertumbuh. Kemudian, aku memutuskan, aku memilih untuk membuatnya bangun, bangkit, bertumbuh. Kini aku punya cita-cita baru, harapan baru, tujuan yang jelas, realistis dan sangat dekat, seolah-olah hanya berjarak sejangkauan tangan.
Setahap demi setahap aku harus menjalani proses untuk mencapai tujuan. Yang menarik, untuk itu aku harus belajar dan berlatih. Ini membuatku merasa hidup lagi, dari awal. Seperti buah yang masih kecil, hijau, rasanya masih asam dan pahit, banyak getah. Itu berarti aku masih punya kesempatan untuk tumbuh, kan?
Setahap demi setahap aku harus menjalani proses untuk mencapai tujuan. Yang menarik, untuk itu aku harus belajar dan berlatih. Ini membuatku merasa hidup lagi, dari awal. Seperti buah yang masih kecil, hijau, rasanya masih asam dan pahit, banyak getah. Itu berarti aku masih punya kesempatan untuk tumbuh, kan?
Jumat, 15 Juni 2012
Halo, Teman. Ini adalah Blog pertamaku untuk belajar menulis. Kunamai BERUGAK karena berugak merupakan tempat yang paling kuinginkan untuk melakukan banyak hal, diantaranya mengobrol, merajut, membaca, merenung, juga menulis. Berugak adalah kata yang digunakan masyarakat Pulau Lombok untuk suatu bangunan kecil di halaman rumah. Bentuk umumnya seperti amben segi empat, dibuat dari kayu, bambu atau paduan keduanya, beratap rumbia atau bahan lain. Berugak umumnya tidak berdinding sehingga ketika cuaca cerah orang yang duduk di situ bisa merasakan langsung semilir angin atau kesegaran udara di sekitarnya. Masyarakat Sunda menyebutnya Saung. Di Blog ini aku akan menulis catatan pribadiku, pengalaman keseharian, juga berbagi informasi, tips atau resep.
Biar lebih seru, yuk berikan tanggapan, penilaian, kritik dan perbaikan atas tulisan-tulisanku. Terima kasih, Teman.
Biar lebih seru, yuk berikan tanggapan, penilaian, kritik dan perbaikan atas tulisan-tulisanku. Terima kasih, Teman.
Langganan:
Postingan (Atom)