Jumat, 29 Juni 2012

WAYANG ORANG

Apa yang terlintas di benak anda ketika mendengar kata 'wayang'? Wayang kulit, dalang, gamelan, atau sinden? Orang lain mungkin akan langsung mengasosiasikan wayang dengan Wayang Golek, Wayang Klithik, Wayang Beber dan banyak lagi jenis wayang yang berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan Cina, Jepang dan banyak negara lain memiliki seni pertunjukan boneka sebagai bagian dari kebudayaan mereka, yang prinsip dasarnya mirip dengan wayang.

Bagiku, wayang mengingatkanku pada banyak hal. Pada masa kecilku di kampung yang tak terlupakan karena hampir setiap malam aku diajak menonton wayang oleh nenek, Mbah Ireng namanya. Wayang yang kami tonton ketika itu adalah jenis Wayang Orang, yakni wayang yang diperankan oleh manusia.

Tempat pertunjukan wayang orang di kampungku itu sederhana, berupa bangunan tidak permanen. Rangka bangunan berbahan kayu, dindingnya anyaman bambu (Jw : gedhek). Lantainya aku lupa, apa tanah atau semen. Yang kuingat dari lantai bangunan pertunjukan adalah serpihan kertas karcis berserakan di dekat pintu masuk. Ukuran bangunan cukup untuk menampung sekitar 50 tempat duduk. Di barisan paling depan sederet kursi kayu, di belakangnya belasan deret bangku panjang yang memiliki sandaran, juga terbuat dari kayu. Deretan bangku dan kursi dipisahkan dengan gang di tengah, membelah deretan bangku dari belakang ke depan. Gang itu selebar 1,5 meter. Bila sedang ramai, bukan hanya seluruh tempat duduk terisi, gang itu pun penuh sesak oleh penonton. Di depan deretan kursi terdepan adalah tempat seperangkat alat gamelan, hanya dipagari sekat setinggi lutut orang dewasa. Kemudian bagian terdepan adalah panggung pertunjukan setinggi sekitar satu meter. Ketika aku kecil, panggung itu tampak mewah dan terang benderang. Lampunya membuat pakaian para wayang gemerlap. Paras mereka menawan.

Sensasi yang sangat kusukai dari menonton wayang orang adalah perasaan larut dalam cerita atau lakon yang dimainkan.  Suara gamelan bagai mengantarkanku masuk ke negeri dongeng. Negeri para wayang.
Seperti menonton film tiga dimensi jaman sekarang. Jika ingatanku lebih baik, aku pasti ingat semua tokoh yang mereka perankan dan bagaimana urutan ceritanya. Tetapi sayang sekali ingatanku payah, jadi hanya beberapa tokoh saja yang kuingat dengan baik. Seperti para tokoh Pandawa, kakak beradik yang berjumlah lima orang. Ayah mereka Pandu Dewanata. Yang tertua Puntadewa, kemudian Werkudara alias Bima Sena dan Arjuna alias Janaka alias Permadi. Mereka bertiga lahir dari Dewi Kunti.  Dua adik mereka yang terakhir adalah kembar Nakula dan Sadewa, dilahirkan oleh Dewi Madrim. Pandu Dewanata dan Dewi Madrim wafat ketika Nakula dan Sadewa masih kecil. Sejak itu para Pandawa diasuh oleh ibu Dewi Kunti hingga dewasa. Pandawa merupakan para kesatria simbol manusia teladan. Tidak hanya penampilan fisik mereka enak dipandang, perangai dan tingkah lakunya terpuji. Semua karakter, sifat dan integritas tak tercela ada pada para Pandawa.  Karena itu banyak orang tua menamai anak mereka dengan nama tokoh Pandawa, dengan harapan dapat meneladani mereka. Tokoh penting di sekitar Pandawa yang sangat erat dengan mereka adalah Gatotkaca. Dia adalah anak Werkudara dengan istrinya Dewi Arimbi. Tokoh lainnya yakni Kresna, seorang raja titisan dewa Wishnu. Kresna digambarkan selalu adil dan bijaksana, yang selalu membimbing Pandawa. Kresna juga selalu ada ketika para Pandawa membutuhkannya. Sebagai titisan dewa, Kresna memiliki kemampuan mengetahui kejadian yang akan datang. Ia juga berperan sangat besar dalam menentukan kemenangan Pandawa dalam perang Bharatayudha melawan Kurawa di padang Kurusetra. Kurawa adalah sepupu Pandawa. Kurawa berjumlah 100 bersaudara. Cara kelahiran mereka unik, yakni dari segumpal daging yang lahir dari rahim ibu Dewi Gandari, kemudian terpecah menjadi 100 bayi manusia. Ayah mereka adalah saudara tua dari ayah para Pandawa. Gambaran perangai dan sepak terjang para Kurawa adalah kebalikan dari Pandawa. Kurawa adalah simbol perangai buruk manusia, kasar, tamak, keji, dengki, hasut dan berbagai keburukan lainnya. Nama Srikandi pasti tak asing bagi anda. Srikandi adalah istri Arjuna, selain Dewi Subadra istri Arjuna lainnya.

Perang Bharatayudha adalah simbol peperangan antara kejahatan melawan kebaikan. Di antara nilai-nilai yang ingin dinasihatkan dari peran ini adalah, bagaimanapun kebaikan pasti menang melawan kejahatan, meskipun dengan penuh perjuangan dan pengorbanan. Kisah perang Bharatayudha sudah banyak ditulis, termasuk dalam bentuk komik. Maka tidak perlu kuceritakan di sini. Selain akan terlalu panjang, juga akan terasa tidak lengkap bila tidak menyertakan cerita lain yang berkaitan dengannya. Memang, jalinan cerita setiap pementasan saling berhubungan dari lakon ke lakon. Itu pun hanya bisa kuingat secara acak dan sepotong-sepotong. Tetapi daya tarik sensasi wayang orang itu tak pernah surut, hingga kini. 

Wayang orang tidak hanya pertunjukan seni, tidak hanya kebudayaan. Wayang orang adalah miniatur alam semesta. Ia mengajarkan banyak hal. Tentang filosofi kehidupan, tentang nilai-nilai kebajikan. Sesuai dengan misi penciptaan wayang sebagai alat dakwah dan penyebaran nila-nilai agama oleh para Wali di Jawa di jamannya. Pakem cerita wayang orang sama dengan wayang kulit. Perbedaannya hanya pada wayangnya. Yang satu terbuat dari kulit yang dimainkan oleh dalang, sedangkan yang lain oranglah yang bermain sebagai wayang. Wayang orang hingga kini diyakini sebagai ilustrasi yang hidup dan menjadi rujukan bagi orang yang mengenal dan memahaminya. Kebiasaan menonton wayang orang saat kecil itu membuatku mengenal dan memahami sebagian budaya Jawa. Aku juga mengenal bahasa Jawa Kromo Inggil, bahasa Jawa halus, dari dialog para wayang. Aku tidak menggunakannya dalam percakapan sehari-hari, tetapi paling tidak, aku paham ketika orang menggunakan bahasa Jawa Kromo Inggil itu kepadaku. Seperti beberapa orang Yogya dan Solo yang kukenal. Wayang orang membuatku merasa cukup layak mengaku sebagai orang Jawa, bukan cuma karena aku lahir di Jawa.

Wayang orang masih ada hingga kini. Di kota Solo masih ada grup Wayang Orang Ngesti Pandowo. Di Jakarta ada Wayang Orang Bharata dan grup-grup wayang orang lain yang masih aktif di beberapa daerah. Aku masih sering menonton pertunjukan Wayang Orang Bharata di kawasan Senen Jakarta Pusat. Sensasi yang kurasakan masih sama. Meskipun berjarak puluhan tahun, pesona wayang orang bagiku masih sama. Menonton wayang orang selalu menjadi oasis bagiku di tengah gurun pasir kehidupan sehari-hari. Setiap kali usai menonton wayang orang, aku seperti baterai yang baru dicas, atau seperti mobil yang baru selesai diservis dan tangki penuh bahan bakar, siap melaju menempuh perjalanan panjang kehidupan dengan berbagai tikungan, tanjakan dan turunan. Jika sedang tidak ada kesempatan nonton wayang orang, minimal aku bisa mendengarkan lagu dan musik dari gamelan yang lazim disebut gending dan klenengan. Itu adalah musik paling indah dan melenakan di dunia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar