Malam berada di puncaknya.Sunyi. Nglangut. Tetapi sebenarnya tidak benar-benar
sunyi. Coba dengar lebih seksama. Lebih tajam. Makin Tajam. Apa kau dengar
detak jam dinding setiap detik? Apakah kau dengar desiran angin terus berputar
dari kipas angin? Apa kau dengar deru kendaraan sesekali lewat di jalan raya di
depan sana? Apa kau dengar hilang-timbul suara orang mengobrol di rumah
tetangga di ujung gang? Dapatkah kau abaikan semua suara yang kau dengar?
Sehingga kesunyian benar-benar menjadi sunyi sesunyi-sunyinya? Kemudian dapatkah
kau bawa jiwamu ke langit ke tujuh? Atau sedekat mungkin dengan singgasana
Illahi?
Tidak, aku tak bisa sejauh itu. Perjalanan
sukmaku di kesunyian ini hanya sampai di tengah laut tak berpantai. Laut yang
tenang, bahkan bulan dan bintang dapat berkaca padanya. Bukan. Ini tampaknya
bukan laut di permukaan bumi. Tetapi laut di dunia yang berbeda dari bumi yang
biasa kupijak di siang hari, atau ketika aku terjaga. Apa aku sedang bermimpi?
Apa aku sudah mati? Mengapa tak seorang pun tampak sejauh mata memandang?
Mengapa aku sendirian di tengah laut seluas ini? Dimanakah aku?
Tiba-tiba muncul bias cahaya di
permukaan laut, jauh di depan. Makin lama makin terang. Makin terang. Amat
terang. Cahaya itu makin besar, makin tinggi. Kemudian menjadi seperti gunung
cahaya. Sangat menyilaukan. Kupejamkan kedua mataku dan secara reflex kedua
tanganku pun menutupnya. Tetapi inderaku yang lain juga merasakan kilau cahaya
itu. Tubuhku mengejang, bulu kudukku meremang, kaki-kakiku tak dapat
kugerakkan. Sampai cahaya itu kurasakan meredup. Perlahan kubuka kedua mataku.
SUBHANALLAH, ALLAHUAKBAR...! Aku terjengkang di permukaan air laut yang
menerima tubuhku bagai kasur air
raksasa. Ajaib, aku tak tenggelam. Aku seperti sedang mengapung di laut mati.
Susah payah aku berusaha bangkit dan berdiri. Sambil tak lepas pandangan ke
depan, pada sosok putih, tinggi, besar , menjulang. Menggantikan gunung cahaya
tadi. Ini bahkan lebih tinggi dari gunung cahaya, amat sangat tinggi sampai aku
tak dapat melihat puncaknya. Apakah itu?
Samar-samar, kemudian semakin
jelas kulihat sepasang sayap, juga berwarna putih bercahaya. Tetapi tidak
menyilaukan, sehingga mataku dapat melihat lebih jelas. Sepasang sayap yang
sangat besar. Rengkuhannya pasti bisa menyembunyikan seluruh bumi. Setiap helai
bulunya bermata dan air menetes dari setiap helai bulu itu. Jutaan tetes air
berjatuhan ke laut, bagai hujan permata berkilauan. Malaikat kah itu? Mulutku ingin meneriakkan
tanya, tetapi terkunci. Aku hanya bisa melihat, terpaku. Dia pun tak berucap.
Yang dilakukannya adalah menyelam, kemudian muncul lagi ke permukaan air.
Berdiri menjulang, membentangkan sayap dan membiarkan air bertetesan dari
sayapnya. Menyelam lagi, muncul lagi. Berdiri menjulang, membentangkan sayap,
membiarkan air menetes dari setiap helai bulu-bulu di sayapnya. Begitu
seterusnya. Sedang apakah dia?
Lamat-lamat kuingat, pernah kudengar,
jika manusia berdzikir mendawamkan kalimat : subhanallah, walhamdulillah,
walailaha illallah, wallaahuakbar...maka ia mendapat ganjaran pahala dari Allah
sebanyak tetes air yang jatuh dari bulu-bulu sayap malaikat yang muncul dari
laut. Sebanyak dzikir yang didawamkan, sebanyak itu pula malaikat menyelam dan
muncul ke permukaan, membiarkan air menetes dari setiap helai bulu sayapnya.
Benarkah? Wallahu a’lam bisawwab. Hanya Allah yang mahamengetahui segala
sesuatu.
Aku tak mampu bertanya lagi.
Pertanyaanku pun tak berjawab. Kurasakan sukmaku melayang pergi dari hadapan
sosok bak malaikat itu, melayang jauh meninggalkannya. Aku terbang
melintasi atmosfir berlapis-lapis menuju
bumi. Kembali ke kesunyian.
Malam telah turun dari puncaknya.
Kesunyian makin pekat. Tak ada lagi suara deru kendaraan, tak ada lagi suara
orang mengobrol. Sepertinya semua makhluk terlelap. Hanya tinggal detak jam dinding dan desir
angin. Adakah sunyi yang benar-benar
sunyi sesunyi-sunyinya?***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar