Minggu, 08 Juli 2012

SUNYI


Malam berada di puncaknya.Sunyi. Nglangut. Tetapi sebenarnya tidak benar-benar sunyi. Coba dengar lebih seksama. Lebih tajam. Makin Tajam. Apa kau dengar detak jam dinding setiap detik? Apakah kau dengar desiran angin terus berputar dari kipas angin? Apa kau dengar deru kendaraan sesekali lewat di jalan raya di depan sana? Apa kau dengar hilang-timbul suara orang mengobrol di rumah tetangga di ujung gang? Dapatkah kau abaikan semua suara yang kau dengar? Sehingga kesunyian benar-benar menjadi sunyi sesunyi-sunyinya? Kemudian dapatkah kau bawa jiwamu ke langit ke tujuh? Atau sedekat mungkin dengan singgasana Illahi? 

Tidak, aku tak bisa sejauh itu. Perjalanan sukmaku di kesunyian ini hanya sampai di tengah laut tak berpantai. Laut yang tenang, bahkan bulan dan bintang dapat berkaca padanya. Bukan. Ini tampaknya bukan laut di permukaan bumi. Tetapi laut di dunia yang berbeda dari bumi yang biasa kupijak di siang hari, atau ketika aku terjaga. Apa aku sedang bermimpi? Apa aku sudah mati? Mengapa tak seorang pun tampak sejauh mata memandang? Mengapa aku sendirian di tengah laut seluas ini? Dimanakah aku?

Tiba-tiba muncul bias cahaya di permukaan laut, jauh di depan. Makin lama makin terang. Makin terang. Amat terang. Cahaya itu makin besar, makin tinggi. Kemudian menjadi seperti gunung cahaya. Sangat menyilaukan. Kupejamkan kedua mataku dan secara reflex kedua tanganku pun menutupnya. Tetapi inderaku yang lain juga merasakan kilau cahaya itu. Tubuhku mengejang, bulu kudukku meremang, kaki-kakiku tak dapat kugerakkan. Sampai cahaya itu kurasakan meredup. Perlahan kubuka kedua mataku. SUBHANALLAH, ALLAHUAKBAR...! Aku terjengkang di permukaan air laut yang menerima tubuhku bagai  kasur air raksasa. Ajaib, aku tak tenggelam. Aku seperti sedang mengapung di laut mati. Susah payah aku berusaha bangkit dan berdiri. Sambil tak lepas pandangan ke depan, pada sosok putih, tinggi, besar , menjulang. Menggantikan gunung cahaya tadi. Ini bahkan lebih tinggi dari gunung cahaya, amat sangat tinggi sampai aku tak dapat melihat puncaknya. Apakah itu?

Samar-samar, kemudian semakin jelas kulihat sepasang sayap, juga berwarna putih bercahaya. Tetapi tidak menyilaukan, sehingga mataku dapat melihat lebih jelas. Sepasang sayap yang sangat besar. Rengkuhannya pasti bisa menyembunyikan seluruh bumi. Setiap helai bulunya bermata dan air menetes dari setiap helai bulu itu. Jutaan tetes air berjatuhan ke laut, bagai hujan permata berkilauan.  Malaikat kah itu? Mulutku ingin meneriakkan tanya, tetapi terkunci. Aku hanya bisa melihat, terpaku. Dia pun tak berucap. Yang dilakukannya adalah menyelam, kemudian muncul lagi ke permukaan air. Berdiri menjulang, membentangkan sayap dan membiarkan air bertetesan dari sayapnya. Menyelam lagi, muncul lagi. Berdiri menjulang, membentangkan sayap, membiarkan air menetes dari setiap helai bulu-bulu di sayapnya. Begitu seterusnya. Sedang apakah dia?

Lamat-lamat kuingat, pernah kudengar, jika manusia berdzikir mendawamkan kalimat : subhanallah, walhamdulillah, walailaha illallah, wallaahuakbar...maka ia mendapat ganjaran pahala dari Allah sebanyak tetes air yang jatuh dari bulu-bulu sayap malaikat yang muncul dari laut. Sebanyak dzikir yang didawamkan, sebanyak itu pula malaikat menyelam dan muncul ke permukaan, membiarkan air menetes dari setiap helai bulu sayapnya. Benarkah? Wallahu a’lam bisawwab. Hanya Allah yang mahamengetahui segala sesuatu.
Aku tak mampu bertanya lagi. Pertanyaanku pun tak berjawab. Kurasakan sukmaku melayang pergi dari hadapan sosok bak malaikat itu, melayang jauh meninggalkannya. Aku terbang melintasi  atmosfir berlapis-lapis menuju bumi. Kembali ke kesunyian. 

Malam telah turun dari puncaknya. Kesunyian makin pekat. Tak ada lagi suara deru kendaraan, tak ada lagi suara orang mengobrol. Sepertinya semua makhluk terlelap.  Hanya tinggal detak jam dinding dan desir angin.  Adakah sunyi yang benar-benar sunyi sesunyi-sunyinya?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar