Sabtu, 21 Juli 2012

LEBIH PRODUKTIF SELAMA BULAN PUASA


Selama bulan Ramadhan jam kerja pegawai dikurangi satu jam, dari jam kerja normal delapan jam per hari menjadi tujuh jam per hari. Ini dimaksudkan untuk memberi toleransi kepada para pegawai yang menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan.  Juga agar mereka bisa lebih cepat tiba di rumah sepulang bekerja untuk bebuka puasa bersama keluarga. Tetapi pengurangan jam kerja ini hendaknya tidak mengurangi produktifitas kinerja para pegawai.  Bagi pegawai yang sebelumnya sudah super sibuk sehingga selalu kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya, pengurangan jam kerja ini akan membuatnya semakin sibuk. Sedangkan bagi sebagian pegawai lainnya yang sebelumnya belum maksimal dalam memanfaatkan waktu kerjanya, ini adalah kesempatan baik yang harus dimanfaatkan untuk lebih produktif.  “Orang yang sibuk lebih efektif mengunakan waktu.” Kalimat ini tentu tidak muncul begitu saja melainkan terumuskan dari pengalaman banyak orang sukses selama bertahun-tahun, sehingga tak terbantahkan lagi.  

Berpuasa tidak menjadi alasan untuk mengurangi kinerja, justru bisa lebih produktif karena tidak perlu waktu khusus untuk makan siang atau rehat kopi. Sebaliknya, kesibukan membuat seseorang lupa atau abai terhadap rasa lapar dan haus karena berpuasa. Jadi, daripada merasa nelangsa, badan lemas, lapar dan haus, lebih baik menyibukkan diri dengan lebih banyak pekerjaan. Dengan demikian, pengurangan jam kerja pegawai selama bulan puasa menjadi kebijakan yang tepat guna, yakni meningkatkan efisiensi penggunaan waktu dan meningkatkan produktifitas pegawai. 

Badan lemas, lapar dan haus ketika berpuasa yang dirasakan sebagian orang sebenarnya berasal dari pikiran. Semakin kuat pikiran berfokus pada rasa lemas, lapar dan haus maka semakin kuat rasa itu mendera, juga semakin dalam tertanam dalam pikiran bawah sadar. Pikiran manusia terdiri atas 20 persen ‘wilayah’ pikiran sadar dan 80 persen pikiran bawah sadar. Pikiran sadar menyimpan memori jangka pendek, sedangkan pikiran bawah sadar menyimpan memori jangka panjang. Apa yang masuk ke dalam pikiran, itulah yang akan keluar. Jika yang masuk positif, maka positif juga yang keluar, demikian pula sebaliknya. Garbadge in garbadge out. Mengubah pikiran sadar lebih mudah dari pada mengubah pikiran bawah sadar karena memori dalam pikiran bawah sadar telah tertanam lebih kuat dan lebih lama.  Hanya seorang profesioanl di bidang mind setting yang dapat membantu penyetingan ulang pikiran secara lebih  cepat dan mudah. Karena itu harus selektif dalam memasukkan input kepada pikiran.  Seseorang takkan bisa produktif jika isi pikirannya adalah :”Ah, aku sedang berpuasa, biarlah sedikit nyantai, tak usah peras tenaga.”  Atau :”Aduh, kok lapar ya?” Tak lama kemudian :”Aduh, haus nih...”  Ada lagi yang lain :”Aduh, mulut asem nih gak bisa merokok.” Sementara dia sudah lama berpikir bahwa rokok membuatnya lebih bisa bekerja. 

Pikiran manusia memancarkan gelombang ke alam semesta. Sementara di alam semesta juga ada gelombang mahabesar di sekeliling kita. Gelombang yang terpancar dari pikiran akan ‘mengundang’ gelombang sejenis dari alam semesta yang kemudian memperkuat gelombang pikiran.  Jika hendak menjadi lebih produktif meskipun sedang berpuasa, mulailah berpikir :”Saya sehat, segar dan bugar meskipun berpuasa. Saya tidak merasa lapar dan haus. Saya bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan hari ini.” Selamat berpuasa, selamat bekerja.***(Titi Surya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar