Selama bulan Ramadhan jam kerja
pegawai dikurangi satu jam, dari jam kerja normal delapan jam per hari menjadi
tujuh jam per hari. Ini dimaksudkan untuk memberi toleransi kepada para pegawai
yang menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan. Juga agar mereka bisa lebih cepat tiba di
rumah sepulang bekerja untuk bebuka puasa bersama keluarga. Tetapi pengurangan
jam kerja ini hendaknya tidak mengurangi produktifitas kinerja para pegawai. Bagi pegawai yang sebelumnya sudah super sibuk
sehingga selalu kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya, pengurangan
jam kerja ini akan membuatnya semakin sibuk. Sedangkan bagi sebagian pegawai
lainnya yang sebelumnya belum maksimal dalam memanfaatkan waktu kerjanya, ini
adalah kesempatan baik yang harus dimanfaatkan untuk lebih produktif. “Orang yang sibuk lebih efektif mengunakan
waktu.” Kalimat ini tentu tidak muncul begitu saja melainkan terumuskan dari
pengalaman banyak orang sukses selama bertahun-tahun, sehingga tak terbantahkan
lagi.
Berpuasa tidak menjadi alasan
untuk mengurangi kinerja, justru bisa lebih produktif karena tidak perlu waktu
khusus untuk makan siang atau rehat kopi. Sebaliknya, kesibukan membuat
seseorang lupa atau abai terhadap rasa lapar dan haus karena berpuasa. Jadi,
daripada merasa nelangsa, badan lemas, lapar dan haus, lebih baik menyibukkan
diri dengan lebih banyak pekerjaan. Dengan demikian, pengurangan jam kerja
pegawai selama bulan puasa menjadi kebijakan yang tepat guna, yakni
meningkatkan efisiensi penggunaan waktu dan meningkatkan produktifitas pegawai.
Badan lemas, lapar dan haus
ketika berpuasa yang dirasakan sebagian orang sebenarnya berasal dari pikiran.
Semakin kuat pikiran berfokus pada rasa lemas, lapar dan haus maka semakin kuat
rasa itu mendera, juga semakin dalam tertanam dalam pikiran bawah sadar. Pikiran
manusia terdiri atas 20 persen ‘wilayah’ pikiran sadar dan 80 persen pikiran
bawah sadar. Pikiran sadar menyimpan memori jangka pendek, sedangkan pikiran
bawah sadar menyimpan memori jangka panjang. Apa yang masuk ke dalam pikiran,
itulah yang akan keluar. Jika yang masuk positif, maka positif juga yang keluar,
demikian pula sebaliknya. Garbadge in
garbadge out. Mengubah pikiran sadar lebih mudah dari pada mengubah pikiran
bawah sadar karena memori dalam pikiran bawah sadar telah tertanam lebih kuat
dan lebih lama. Hanya seorang
profesioanl di bidang mind setting yang
dapat membantu penyetingan ulang pikiran secara lebih cepat dan mudah. Karena itu harus selektif
dalam memasukkan input kepada pikiran. Seseorang
takkan bisa produktif jika isi pikirannya adalah :”Ah, aku sedang berpuasa,
biarlah sedikit nyantai, tak usah
peras tenaga.” Atau :”Aduh, kok lapar
ya?” Tak lama kemudian :”Aduh, haus nih...”
Ada lagi yang lain :”Aduh, mulut asem nih gak bisa merokok.” Sementara
dia sudah lama berpikir bahwa rokok membuatnya lebih bisa bekerja.
Pikiran manusia memancarkan
gelombang ke alam semesta. Sementara di alam semesta juga ada gelombang mahabesar
di sekeliling kita. Gelombang yang terpancar dari pikiran akan ‘mengundang’
gelombang sejenis dari alam semesta yang kemudian memperkuat gelombang pikiran.
Jika hendak menjadi lebih produktif
meskipun sedang berpuasa, mulailah berpikir :”Saya sehat, segar dan bugar
meskipun berpuasa. Saya tidak merasa lapar dan haus. Saya bisa menyelesaikan
lebih banyak pekerjaan hari ini.” Selamat berpuasa, selamat bekerja.***(Titi
Surya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar