Senin, 16 Juli 2012

SANTI


Kantor yayasan penyalur baby sitter itu tidak tampak seperti kantor, tetapi lebih seperti sebuah rumah tinggal. Terletak di pinggir jalan besar yang sibuk oleh lalu lintas kendaraan. Bangunannya tampak tua tetapi terawat. Pepohonan yang tumbuh di samping dan depan rumah tumbuh rindang menaungi halaman. 

Aku  membuat janji bertemu dengan pengelola yayasan kemarin. Hari ini aku datang bersama suamiku untuk menjemput seorang baby sitter untuk mengasuh bayiku. Bayiku ini laki-laki, lima bulan, kulitnya putih, montok. Aku menggendongnya masuk ke kantor yayasan. Kami disilakan masuk melalui pintu samping berupa pintu besar dari seng yang dicat biru. Sekitar 10 langkah berjalan di sebelah kananku ada pintu masuk ke sebuah ruangan. Kami masuk, langsung bertemu dengan pengelola yayasan, Ibu Martha, yang sudah menunggu.  

Ibu Martha langsung memperkenalkan satu per satu para baby sitter yang ada di ruangan itu, kemudian memberi beberapa penjelasan tambahan.  Ada dua belas orang, yang termuda berusia lima belas tahun, yang tertua 35 tahun. Ibu Martha memintaku memilih satu di antara mereka. Kuperhatikan satu per satu dari ujung kiri ke kanan. Agak sulit juga memilih dalam waktu singkat seperti ini, pikirku. Maka kuputuskan untuk memancing mereka mengajukan diri dengan mengajukan satu pertanyaan. “Siapa yang mau mengasuh anak saya ini?” tanyaku sambil menunjuk bayiku yang kupangku. Hening dua sampai tiga menit. Aku tak heran. Masyarakat kita memang belum terbiasa berinisiatif, atau berani menjadi pendahulu, lebih aman menunggu perintah. Kita belum terbiasa mengajukan diri sendiri, lebih suka menunjuk orang lain, atau menunggu orang lain menunjuk kita. Ini pengajaran yang kurang dalam sistem pendidikan kita. Tiba-tiba seorang dari mereka mengacungkan jari telunjuk ke atas sambil berkata :”Saya, Bu.” 

Aku segera menoleh ke arah suara yang memecah keheningan barusan. Seorang gadis berdiri dengan posisi masih mengacungkan tangan. Dia tersenyum. Pandangan matanya sopan namun percaya diri. “Ya, siapa namamu?” tanyaku. “Santi, Bu.” Jawabnya sambil menurunkan tangan dan mengangguk padaku dengan takzim. Santi memakai baju putih, baju seragam baby sitter. Hanya dia sendiri di ruangan itu yang memakai seragam. Yang lain mengenakan pakaian bebas, seolah-olah mereka sedang santai di rumah, bukan menunggu tamu atau calon majikan.  Hal itu membuatku memberi  tiga nilai lebih kepada Santi dibanding lainnya. Dia berinisiatif mengajukan diri, sikapnya sopan, dan pakaian seragamnya menandakan bahwa dia siap bekerja. Maka tanpa berlama-lama, aku langsung menerimanya. Setelah menyelesaikan urusan administrasi kami langsung pulang. Santi hanya perlu waktu beberapa menit untuk membereskan barangnya, lebih tepat dua set pakaian dari jemuran untuk dimasukkan ke dalam tas yang sudah dia siapkan. Kemudian berpamitan kepada Ibu Martha dan teman-temannya, lalu bersama kami ‘pulang ke rumah barunya’.

Rumah kami cukup jauh. Hari sudah petang ketika kami sampai di rumah. Anak sulungku, Kin, segera menyambut kami dengan gembira. Apalagi ketika mengetahui  kami berhasil mendapatkan seorang pengasuh untuk adiknya. Dia segera menyambut salam dari Santi dan langsung memberondongkan pertanyaan. Siapa nama suster (sebutan untuk baby sitter), dimana rumahnya, punya adik apa tidak dan sebagainya. Semua pertanyaan Kin dijawab oleh Santi dengan sabar dan full senyum. Dia tampak sudah terbiasa menghadapi anak cerewet seperti Kin. Santi juga kukenalkan dengan Yanti, pembantu rumah tangga yang merangkap pengasuh Kin. Usia Santi dan Yanti tak jauh beda.  Kin, anak perempuanku ini baru lima tahun usianya. Dia sangat senang mempunyai adik laki-laki yang montok, lucu dan menggemaskan. Dia sering diam-diam mencubit pipi sang adik saking gemasnya. Adiknya tentu menangis, tetapi segera diam kembali karena Kin buru-buru membujuknya dengan berbagai ocehan lucu. Malah tak berapa lama adiknya sudah tertawa terkekeh-kekeh oleh gayanya memainkan boneka di depan adiknya. Melihat tingkah kedua anakku, Santi yang sudah meletakkan tas di kamarnya  mendekati. Dia lebih dulu mencuci kaki dan tangan, lalu mencoba menarik perhatian Seto, sang bayi. Dalam perjalanan pulang tadi bayiku tidur, sehingga Santi belum sempat berkenalan dengannya. Maka kubiarkan mereka bertiga mengakrabkan diri hingga maghrib tiba. Aku lega. Kini sudah ada pengasuh khusus untuk bayiku, sehingga bisa bekerja dengan tenang. Kuharap Santi dapat mengasuh bayiku dengan baik. Harapanku terkabul. Santi mengurus bayiku dengan baik. Aku sangat terbantu karenanya. Jadwal yang kubuatkan untuk kegiatan bayiku si montok Seto dipatuhinya, sehingga Seto tumbuh sehat, ceria, makin lucu.

Saat ada waktu luang kusempatkan mengobrol dengan Santi. Dia berasal dari Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Di Plumbon dia tinggal bersama nenek, kakak laki-laki dan adik perempuannya. Sebelum menjadi baby sitter, Santi pernah bekerja di pabrik sandal di Cirebon. Saat itu dia sambil sekolah di SMP Terbuka, yang waktu dan kegiatan belajarnya mandiri dengan modul-modul. Tutorial hanya dua minggu sekali. Santi tamat dari SMP Terbuka itu dengan biaya sendiri. Aku salut padanya. Salut pada semangat belajarnya yang luar biasa. Ketika itu terbersit keinginan di benakku mungkin suatu saat aku bisa membantunya melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Niatku ini semakin kuat seiring berlalunya waktu yang kami lalui tiga tahun kemudian. Santi terus bekerja dengan baik, bahkan ketika Yanti, pembantu rumah tangga kami berhenti bekerja, dia mau mengerjakan tugas tambahan membantu membereskan rumah. Dia juga tak segan belajar menjahit dengan tangan, seperti yang kulakukan ketika membuat gaun ala putri Cinderella untuk ulang tahun Kin. Bahan gaun itu kubuat dari kain kaca bekas baju Bodo milikku. Lama-kelamaan Santi terasa seperti keluarga sendiri, tidak sekadar baby sitter

Begitulah, ketika lahir anakku yang ke tiga, seorang bayi laki-laki yang kami beri nama Seno, ketika itu Seto baru berusia 23 bulan. Maka di rumahku sekarang ada tiga anak. Sulung perempuan berusia 6,5 tahun, satu balita dua tahun laki-laki dan satu bayi laki-laki. Aku menambah satu pengasuh lagi untuk meringankan beban pekerjaan Santi.  Rumahku bertambah ramai, lebih sering terdengar tangis bayi. 

Santi akhirnya dapat melanjutkan sekolah ke SMA. Sebuah SMA swasta di Tente Bima, Nusa Tenggara Barat hingga tamat. Dia kutitipkan kepada orang tuaku yang ketika itu tinggal di sana. Setamat SMA Santi menikah di Bima dan tinggal bersama suaminya. Kemudian punya satu anak. Aku sempat berjumpa dengannya satu kali ketika dia berkunjung ke rumah orang tuaku saat aku juga berada di sana. Santi datang membawa serta anaknya yang ketika itu masih bayi. Kami sangat senang bisa bertemu lagi dan saling melepas kangen. Setelah itu aku tidak bertemu lagi dengannya hingga sekarang. Kabar terakhir yang kutahu tentang Santi adalah bahwa dia bekerja di suatu pabrik di Tangerang, tetapi aku tidak tahu pasti dimana. Itu pun kabar beberapa tahun lalu. 

Aku ingin sekali bertemu lagi dengan Santi. Ingin kudengar bagaimana kisah hidupnya selama perpisahan kami bertahun-tahun belakangan ini. Aku juga ingin menunjukkan kepadanya Kin yang sudah dewasa sekarang. Begitu juga Seto dan Seno, dua bayi yang diurusnya dulu, kini sudah remaja. Mereka pasti akan sangat senang bertemu dengan Santi. Kuberdo’a semoga suatu saat Allah memberi kesempatan kepada kami bertemu lagi.“Santi, jika kamu membaca tulisan ini, kami ingin sekali bertemu denganmu. Carilah aku di kantorku. Semoga Allah memudahkan pertemuan kita. Amin.”***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar