Kantor yayasan penyalur baby
sitter itu tidak tampak seperti kantor, tetapi lebih seperti sebuah rumah
tinggal. Terletak di pinggir jalan besar yang sibuk oleh lalu lintas kendaraan.
Bangunannya tampak tua tetapi terawat. Pepohonan yang tumbuh di samping dan
depan rumah tumbuh rindang menaungi halaman.
Aku membuat janji bertemu dengan pengelola
yayasan kemarin. Hari ini aku datang bersama suamiku untuk menjemput seorang
baby sitter untuk mengasuh bayiku. Bayiku ini laki-laki, lima bulan, kulitnya
putih, montok. Aku menggendongnya masuk ke kantor yayasan. Kami disilakan masuk
melalui pintu samping berupa pintu besar dari seng yang dicat biru. Sekitar 10
langkah berjalan di sebelah kananku ada pintu masuk ke sebuah ruangan. Kami
masuk, langsung bertemu dengan pengelola yayasan, Ibu Martha, yang sudah
menunggu.
Ibu Martha langsung
memperkenalkan satu per satu para baby sitter yang ada di ruangan itu, kemudian
memberi beberapa penjelasan tambahan. Ada dua belas orang, yang termuda berusia lima
belas tahun, yang tertua 35 tahun. Ibu Martha memintaku memilih satu di antara
mereka. Kuperhatikan satu per satu dari ujung kiri ke kanan. Agak sulit juga
memilih dalam waktu singkat seperti ini, pikirku. Maka kuputuskan untuk
memancing mereka mengajukan diri dengan mengajukan satu pertanyaan. “Siapa yang
mau mengasuh anak saya ini?” tanyaku sambil menunjuk bayiku yang kupangku.
Hening dua sampai tiga menit. Aku tak heran. Masyarakat kita memang belum
terbiasa berinisiatif, atau berani menjadi pendahulu, lebih aman menunggu
perintah. Kita belum terbiasa mengajukan diri sendiri, lebih suka menunjuk
orang lain, atau menunggu orang lain menunjuk kita. Ini pengajaran yang kurang
dalam sistem pendidikan kita. Tiba-tiba seorang dari mereka mengacungkan jari
telunjuk ke atas sambil berkata :”Saya, Bu.”
Aku segera menoleh ke arah suara
yang memecah keheningan barusan. Seorang gadis berdiri dengan posisi masih mengacungkan
tangan. Dia tersenyum. Pandangan matanya sopan namun percaya diri. “Ya, siapa
namamu?” tanyaku. “Santi, Bu.” Jawabnya sambil menurunkan tangan dan mengangguk
padaku dengan takzim. Santi memakai baju putih, baju seragam baby sitter. Hanya
dia sendiri di ruangan itu yang memakai seragam. Yang lain mengenakan pakaian
bebas, seolah-olah mereka sedang santai di rumah, bukan menunggu tamu atau
calon majikan. Hal itu membuatku
memberi tiga nilai lebih kepada Santi
dibanding lainnya. Dia berinisiatif mengajukan diri, sikapnya sopan, dan
pakaian seragamnya menandakan bahwa dia siap bekerja. Maka tanpa berlama-lama,
aku langsung menerimanya. Setelah menyelesaikan urusan administrasi kami
langsung pulang. Santi hanya perlu waktu beberapa menit untuk membereskan
barangnya, lebih tepat dua set pakaian dari jemuran untuk dimasukkan ke dalam
tas yang sudah dia siapkan. Kemudian berpamitan kepada Ibu Martha dan
teman-temannya, lalu bersama kami ‘pulang ke rumah barunya’.
Rumah kami cukup jauh. Hari sudah
petang ketika kami sampai di rumah. Anak sulungku, Kin, segera menyambut kami
dengan gembira. Apalagi ketika mengetahui
kami berhasil mendapatkan seorang pengasuh untuk adiknya. Dia segera
menyambut salam dari Santi dan langsung memberondongkan pertanyaan. Siapa nama
suster (sebutan untuk baby sitter), dimana rumahnya, punya adik apa tidak dan
sebagainya. Semua pertanyaan Kin dijawab oleh Santi dengan sabar dan full
senyum. Dia tampak sudah terbiasa menghadapi anak cerewet seperti Kin. Santi
juga kukenalkan dengan Yanti, pembantu rumah tangga yang merangkap pengasuh
Kin. Usia Santi dan Yanti tak jauh beda. Kin, anak perempuanku ini baru lima tahun
usianya. Dia sangat senang mempunyai adik laki-laki yang montok, lucu dan
menggemaskan. Dia sering diam-diam mencubit pipi sang adik saking gemasnya.
Adiknya tentu menangis, tetapi segera diam kembali karena Kin buru-buru
membujuknya dengan berbagai ocehan lucu. Malah tak berapa lama adiknya sudah
tertawa terkekeh-kekeh oleh gayanya memainkan boneka di depan adiknya. Melihat
tingkah kedua anakku, Santi yang sudah meletakkan tas di kamarnya mendekati. Dia lebih dulu mencuci kaki dan
tangan, lalu mencoba menarik perhatian Seto, sang bayi. Dalam perjalanan pulang
tadi bayiku tidur, sehingga Santi belum sempat berkenalan dengannya. Maka
kubiarkan mereka bertiga mengakrabkan diri hingga maghrib tiba. Aku lega. Kini
sudah ada pengasuh khusus untuk bayiku, sehingga bisa bekerja dengan tenang. Kuharap
Santi dapat mengasuh bayiku dengan baik. Harapanku terkabul. Santi mengurus bayiku
dengan baik. Aku sangat terbantu karenanya. Jadwal yang kubuatkan untuk
kegiatan bayiku si montok Seto dipatuhinya, sehingga Seto tumbuh sehat, ceria,
makin lucu.
Saat ada waktu luang kusempatkan mengobrol
dengan Santi. Dia berasal dari Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Di Plumbon dia
tinggal bersama nenek, kakak laki-laki dan adik perempuannya. Sebelum menjadi
baby sitter, Santi pernah bekerja di pabrik sandal di Cirebon. Saat itu dia
sambil sekolah di SMP Terbuka, yang waktu dan kegiatan belajarnya mandiri dengan
modul-modul. Tutorial hanya dua minggu sekali. Santi tamat dari SMP Terbuka itu
dengan biaya sendiri. Aku salut padanya. Salut pada semangat belajarnya yang
luar biasa. Ketika itu terbersit keinginan di benakku mungkin suatu saat aku
bisa membantunya melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Niatku ini semakin kuat
seiring berlalunya waktu yang kami lalui tiga tahun kemudian. Santi terus
bekerja dengan baik, bahkan ketika Yanti, pembantu rumah tangga kami berhenti
bekerja, dia mau mengerjakan tugas tambahan membantu membereskan rumah. Dia
juga tak segan belajar menjahit dengan tangan, seperti yang kulakukan ketika
membuat gaun ala putri Cinderella untuk ulang tahun Kin. Bahan gaun itu kubuat
dari kain kaca bekas baju Bodo milikku. Lama-kelamaan Santi terasa seperti keluarga
sendiri, tidak sekadar baby sitter.
Begitulah, ketika lahir anakku
yang ke tiga, seorang bayi laki-laki yang kami beri nama Seno, ketika itu Seto
baru berusia 23 bulan. Maka di rumahku sekarang ada tiga anak. Sulung perempuan
berusia 6,5 tahun, satu balita dua tahun laki-laki dan satu bayi laki-laki. Aku
menambah satu pengasuh lagi untuk meringankan beban pekerjaan Santi. Rumahku bertambah ramai, lebih sering
terdengar tangis bayi.
Santi akhirnya dapat melanjutkan
sekolah ke SMA. Sebuah SMA swasta di Tente Bima, Nusa Tenggara Barat hingga
tamat. Dia kutitipkan kepada orang tuaku yang ketika itu tinggal di sana.
Setamat SMA Santi menikah di Bima dan tinggal bersama suaminya. Kemudian punya
satu anak. Aku sempat berjumpa dengannya satu kali ketika dia berkunjung ke
rumah orang tuaku saat aku juga berada di sana. Santi datang membawa serta
anaknya yang ketika itu masih bayi. Kami sangat senang bisa bertemu lagi dan
saling melepas kangen. Setelah itu aku tidak bertemu lagi dengannya hingga
sekarang. Kabar terakhir yang kutahu tentang Santi adalah bahwa dia bekerja di
suatu pabrik di Tangerang, tetapi aku tidak tahu pasti dimana. Itu pun kabar
beberapa tahun lalu.
Aku ingin sekali bertemu lagi
dengan Santi. Ingin kudengar bagaimana kisah hidupnya selama perpisahan kami
bertahun-tahun belakangan ini. Aku juga ingin menunjukkan kepadanya Kin yang
sudah dewasa sekarang. Begitu juga Seto dan Seno, dua bayi yang diurusnya dulu,
kini sudah remaja. Mereka pasti akan sangat senang bertemu dengan Santi.
Kuberdo’a semoga suatu saat Allah memberi kesempatan kepada kami bertemu lagi.“Santi, jika kamu membaca tulisan
ini, kami ingin sekali bertemu denganmu. Carilah aku di kantorku. Semoga Allah
memudahkan pertemuan kita. Amin.”***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar