Dalam pandangan awam, sangat ironis jika petani, atau penduduk
di pedesaan sampai mengalami kekurangan pangan, gizi buruk, bahkan
terancam kelaparan. Sebab penduduk
pedesaan yang kebanyakan petani, adalah
pekerja keras. Mereka tidak hanya menggarap sawah dan ladang. Pekarangan rumah
dan sekitarnya juga menjadi lahan garapan mereka. Usaha tani mereka juga
meliputi berbagai jenis tanaman dan hewan peliharaan. Dapat dikatakan, tanpa
banyak teori, penduduk di pedesaan telah menerapkan usahatani terpadu. Sawah
dan ladang mereka menghasilkan panen pada setiap musim. Hewan ternak, unggas
dan ikan yang mereka pelihara adalah sumber nutrisi hewani yang selalu
tersedia. Lahan pekarangan mereka adalah lumbung makanan yang dapat mereka gali
saat paceklik. Dengan kondisi demikian, bagaimana mungkin mereka kekurangan
pangan? Itu logika orang awam, yang
melihat persoalan pangan dengan cara sederhana. Sepanjang manusia masih giat
bekerja membudi daya tanaman dan hewan demi memenuhi kebutuhan pangan, maka
pangan akan selalu cukup tersedia.
Petani di kampungku,
Desa Selanegara di Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Jawa
Tengah bagian Selatan, juga pekerja keras. Pagi-pagi sekali mereka sudah di
sawah atau ladang, baru pulang saat matahari condong ke barat. Pada hari yang
lain mereka pulang lebih awal saat bedug tanda waktu sholat dzuhur dibunyikan.
Setelah beristirahat sejenak, mereka ke pekarangan rumah, menyingkirkan gulma
di sekitar tanaman, menggemburkan tanah, mengumpulkan ranting untuk kayu bakar
dan sebagainya.
Hampir semua bahan pangan penduduk desaku dihasilkan dari
usahatani mereka sendiri. Sawah mereka menghasilkan padi yang cukup memenuhi kebutuhan sampai musim panen berikutnya. Dari sawah juga dapat diambil daun
semanggi serta batang dan daun keladi
sebagai bahan sayur. Bahkan tutut (siput sawah) untuk bahan lauk makan nasi. Tepian
pematang sawah pun tak luput menjadi
lahan produktif tempat menanam kacang panjang. Tegakan bambu yang sengaja dipasang untuk
tempat menjalarnya batang dan sulur
tanaman kacang panjang berjajar seperti pagar
di pematang. Tidak hanya buah kacang panjang yang bisa dikonsumsi, daunnya juga bahan sayur yang banyak disukai. Di kampungku daun kacang panjang yang dikonsumsi disebut daun lembayung. Di dalam pematang juga ada belut dan kepiting yang dapat ‘dipancing’
pada musim tertentu. Ladang menghasilkan jagung, singkong, ubi
jalar, bayam, terong dan sayuran lainnya. Kolam menjadi
persediaan ikan sepanjang tahun. Ikan juga dapat dipelihara di sawah dengan
sistem budidaya minapadi.
Di pekarangan sekitar rumah ada kandang kambing, bebek,
itik, ayam. Di beberapa rumah ada yang juga memelihara sapi atau kerbau. Semuanya menjadi sumber daging dan telur untuk
konsumsi sendiri atau dijual. Di musim tertentu, belalang, laron, dan larva lebah madu pun dapat menjadi sumber protein yang lezat. Di musim hujan, banyak jamur yang bisa dipetik. Kebutuhan buah-buahan dapat pula terpenuhi dari
tanaman yang tumbuh di pekarangan. Duku, rambutan, jambu biji maupun jambu air,
nanas, kedondong, belimbing, manggis, pepaya, mangga, jeruk, pisang, jamblang (duwet) dan lain-lain. Demikian pula tanaman bumbu dan tanaman obat,
semuanya ada di pekarangan. Sampai pagar pekarangan juga menjadi lahan untuk
beberapa tanaman sumber sayur-mayur. Seperti daun mangkokan, daun katuk, daun
cakla-cikli, daun kenikir, dan banyak lagi.
Selebihnya, pekarangan juga menjadi ‘celengan’ dengan tanaman kayu dan rumpun bambu untuk bahan
bangunan rumah atau dijual untuk keperluan sekolah anak-anak.
Di dalam tanah di pekarangan tumbuh berbagai jenis umbi. Ada
Gadung yang batangnya menjalar pada tumbuhan terdekat, ada Suweg yang batangnya
berdiri tegak sekitar satu sampai satu setengah meter. Ada Ganyong yang
bunganya berwarna merah atau orange, umbinya mirip bentuk lengkuas tetapi lebih
besar, padat zat tepung dan manis jika direbus. Ada Gembili yang mirip kentang.
Beberapa jenis umbi lainnya kulupa namanya. Setahuku, aneka umbi itu menjadi sumber pangan alternatif di masa kemarau
panjang—masa paceklik—ketika persediaan beras menipis dan sawah ditanami
palawija atau di-bera-kan karena ketiadaan air.
Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Desaku
hanyalah satu karakter wilayah pedesaan umumnya di Jawa. Tentu banyak lagi
wilayah pedesaan lain yang memiliki karakteristik berbeda. Tetapi kuyakin semua
memiliki potensi masing-masing, berupa potensi sumber daya manusia, sosial budaya dan sumber daya alam.
Prinsipnya, semua potensi itu secara bersama dan terpadu dapat menjadi modal
membangun kemandirian pangan di desa. Kemandirian pangan ala orang desa.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar