Selasa, 10 Juli 2012

KEMANDIRIAN PANGAN ALA ORANG DESA

Dalam pandangan awam, sangat ironis jika petani, atau penduduk di pedesaan sampai  mengalami  kekurangan pangan, gizi buruk, bahkan terancam  kelaparan. Sebab penduduk pedesaan yang  kebanyakan petani, adalah pekerja keras. Mereka tidak hanya menggarap sawah dan ladang. Pekarangan rumah dan sekitarnya juga menjadi lahan garapan mereka. Usaha tani mereka juga meliputi berbagai jenis tanaman dan hewan peliharaan. Dapat dikatakan, tanpa banyak teori, penduduk di pedesaan telah menerapkan usahatani terpadu. Sawah dan ladang mereka menghasilkan panen pada setiap musim. Hewan ternak, unggas dan ikan yang mereka pelihara adalah sumber nutrisi hewani yang selalu tersedia. Lahan pekarangan mereka adalah lumbung makanan yang dapat mereka gali saat paceklik. Dengan kondisi demikian, bagaimana mungkin mereka kekurangan pangan?  Itu logika orang awam, yang melihat persoalan pangan dengan cara sederhana. Sepanjang manusia masih giat bekerja membudi daya tanaman dan hewan demi memenuhi kebutuhan pangan, maka pangan akan selalu cukup tersedia. 

Petani  di kampungku, Desa Selanegara  di  Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah bagian Selatan, juga pekerja keras. Pagi-pagi sekali mereka sudah di sawah atau ladang, baru pulang saat matahari condong ke barat. Pada hari yang lain mereka pulang lebih awal saat bedug tanda waktu sholat dzuhur dibunyikan. Setelah beristirahat sejenak, mereka ke pekarangan rumah, menyingkirkan gulma di sekitar tanaman, menggemburkan tanah, mengumpulkan ranting untuk kayu bakar dan sebagainya. 

Hampir semua bahan pangan penduduk desaku dihasilkan dari usahatani mereka sendiri. Sawah mereka menghasilkan padi yang cukup memenuhi  kebutuhan sampai musim panen berikutnya.  Dari sawah juga dapat diambil daun semanggi  serta batang dan daun keladi sebagai bahan sayur. Bahkan tutut (siput sawah) untuk bahan lauk makan nasi. Tepian pematang sawah pun tak luput menjadi  lahan produktif tempat menanam kacang panjang.  Tegakan bambu yang sengaja dipasang untuk tempat menjalarnya  batang dan sulur tanaman kacang panjang berjajar seperti pagar  di pematang. Tidak hanya buah kacang panjang yang bisa dikonsumsi, daunnya juga bahan sayur yang banyak disukai. Di kampungku daun kacang panjang yang dikonsumsi disebut daun lembayung. Di dalam pematang juga ada belut dan kepiting yang dapat ‘dipancing’ pada musim tertentu.   Ladang menghasilkan jagung, singkong, ubi jalar, bayam, terong dan sayuran lainnya. Kolam  menjadi persediaan ikan sepanjang tahun. Ikan juga dapat dipelihara di sawah dengan sistem budidaya minapadi.

Di pekarangan sekitar rumah ada kandang kambing, bebek, itik, ayam. Di beberapa rumah ada yang juga memelihara sapi atau kerbau.  Semuanya menjadi sumber daging dan telur untuk konsumsi sendiri atau dijual. Di musim tertentu, belalang, laron, dan larva lebah madu pun dapat menjadi sumber protein yang lezat. Di musim hujan, banyak jamur yang bisa dipetik. Kebutuhan buah-buahan dapat pula terpenuhi dari tanaman yang tumbuh di pekarangan. Duku, rambutan, jambu biji maupun jambu air, nanas, kedondong, belimbing, manggis, pepaya, mangga, jeruk, pisang, jamblang (duwet) dan lain-lain. Demikian pula tanaman bumbu dan tanaman obat, semuanya ada di pekarangan. Sampai pagar pekarangan juga menjadi lahan untuk beberapa tanaman sumber sayur-mayur. Seperti daun mangkokan, daun katuk, daun cakla-cikli, daun kenikir, dan banyak lagi.

Selebihnya, pekarangan juga menjadi ‘celengan’ dengan  tanaman kayu dan rumpun bambu untuk bahan bangunan rumah atau dijual untuk keperluan sekolah anak-anak.

Di dalam tanah di pekarangan tumbuh berbagai jenis umbi. Ada Gadung yang batangnya menjalar pada tumbuhan terdekat, ada Suweg yang batangnya berdiri tegak sekitar satu sampai satu setengah meter. Ada Ganyong yang bunganya berwarna merah atau orange, umbinya mirip bentuk lengkuas tetapi lebih besar, padat zat tepung dan manis jika direbus. Ada Gembili yang mirip kentang. Beberapa jenis umbi lainnya kulupa namanya. Setahuku, aneka umbi itu menjadi  sumber pangan alternatif di masa kemarau panjang—masa paceklik—ketika persediaan beras menipis dan sawah ditanami palawija atau di-bera-kan karena ketiadaan air.  

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Desaku hanyalah satu karakter wilayah pedesaan umumnya di Jawa. Tentu banyak lagi wilayah pedesaan lain yang memiliki karakteristik berbeda. Tetapi kuyakin semua memiliki potensi masing-masing, berupa potensi sumber daya manusia,  sosial budaya dan sumber daya alam. Prinsipnya, semua potensi itu secara bersama dan terpadu dapat menjadi modal membangun kemandirian pangan di desa. Kemandirian pangan ala orang desa.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar