Sabtu, 21 Juli 2012

MAKANAN KADALUARSA, SEMUA PIHAK WAJIB PEDULI


Badan Pengawasan Obat dan Makanan bersama pihak terkait sering melakukan pemeriksaan di toko-toko, pasar swalayan dan pasar-pasar tradisional untuk memriksa ada-tidaknya makanan kadaluarsa, secara berkala atau mendadak. Sidak atau inspeksi mendadak lebih gencar dilakukan menjelang bulan Ramadhan dan masih ada saja makanan kadaluarsa ditemukan.  Kesannya seolah-olah para pedagang tidak henti-hentinya melanggar aturan tentang penjualan makanan kadaluarsa. Apakah mereka tidak tahu? Tidak peduli? Atau sengaja main kucing-kucingan dengan petugas?

Di berbagai daerah di Indonesia, makanan  kadaluarsa masih saja ditemukan oleh tim razia dari Pemerintah dan BPOM. Misalnya, di Sumenep, Madura, hari ini ditemukan makanan dan minuman kadaluarsa di beberapa mini market dan pasar tradisional. Di Lhokseumawe, Aceh Utara, hari Jumat 13 Juli lalu, Tim razia yang terdiri atas unsur Polres, Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, serta Lembaga Perlindungan Konsumen Muslim setempat menemukan makanan dan minuman siap santap sudah kadaluarsa berupa dodol, makanan ringan berbagai merk, sirup, minuman bersoda dan kopi siap minum dalam kemasan kaleng. Satu contoh lagi, sebuah toko di Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, kedapatan masih memajang minuman susu formula untuk anak-anak yang sudah kadaluarsa.

Memang pemeriksaan tidak dilakukan setiap hari dan tidak semua toko atau pedagang terjangkau oleh petugas, karena jumlah personil pengawas dari BPOM dan instansi terkait terbatas. Sehingga banyak celah bisa dimanfaatkan pedagang.  Namun hal itu hendaknya tidak dijadikan alasan hanya demi keuntungan lebih besar. Pedagang juga harus mempertimbangkan kepentingan pemakai produk yang dijualnya. Makanan kadaluarsa jelas merugikan konsumen. Telah banyak kasus terjadi dan pengujian dilakukan. Semuanya menyimpulkan makanan kadaluarsa berbahaya bagi manusia. Mulai dari keracunan tingkat ringan berupa pusing dan muntah-muntah sampai dengan akibat  yang fatal. Pedagang perlu lebih cermat memerhatikan masa kadaluarsa produk-produk makanan dan minuman yang dijualnya, tidak asal memajang atau sengaja memajang kemudian membiarkan pembeli yang tidak jeli terjebak membelinya.

Pembeli juga harus lebih cermat, teliti dan waspada. Setiap satuan produk makanan dan minuman harus dilihat tanggal masa berlakunya. Jika tidak ada tanggalnya atau tanggalnya tidak jelas, jangan dibeli. Kecermatan ini tetap diperlukan saat membeli barang dalam jumlah sedikit ataupun banyak. Konsumen tidak bisa hanya mengandalkan pengawasan petugas atau kepedulian pedagang. Pengawasan terbaik adalah oleh diri sendiri. Bahkan, masyarakat dapat mengadukan temuan produk makanan dan minuman kadaluarsa kepada lembaga konsumen, BPOM atau kepolisian. Catat jenis, merk dan tanggal kadaluarsa produk yang dilaporkan, nama dan alamat lengkap toko yang menjual, juga hari, tanggal dan jam ketika produk tersebut ditemukan. Jika perlu jadikan sampel dari produk yang dibeli.***(Titi Surya)


LEBIH PRODUKTIF SELAMA BULAN PUASA


Selama bulan Ramadhan jam kerja pegawai dikurangi satu jam, dari jam kerja normal delapan jam per hari menjadi tujuh jam per hari. Ini dimaksudkan untuk memberi toleransi kepada para pegawai yang menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadhan.  Juga agar mereka bisa lebih cepat tiba di rumah sepulang bekerja untuk bebuka puasa bersama keluarga. Tetapi pengurangan jam kerja ini hendaknya tidak mengurangi produktifitas kinerja para pegawai.  Bagi pegawai yang sebelumnya sudah super sibuk sehingga selalu kekurangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya, pengurangan jam kerja ini akan membuatnya semakin sibuk. Sedangkan bagi sebagian pegawai lainnya yang sebelumnya belum maksimal dalam memanfaatkan waktu kerjanya, ini adalah kesempatan baik yang harus dimanfaatkan untuk lebih produktif.  “Orang yang sibuk lebih efektif mengunakan waktu.” Kalimat ini tentu tidak muncul begitu saja melainkan terumuskan dari pengalaman banyak orang sukses selama bertahun-tahun, sehingga tak terbantahkan lagi.  

Berpuasa tidak menjadi alasan untuk mengurangi kinerja, justru bisa lebih produktif karena tidak perlu waktu khusus untuk makan siang atau rehat kopi. Sebaliknya, kesibukan membuat seseorang lupa atau abai terhadap rasa lapar dan haus karena berpuasa. Jadi, daripada merasa nelangsa, badan lemas, lapar dan haus, lebih baik menyibukkan diri dengan lebih banyak pekerjaan. Dengan demikian, pengurangan jam kerja pegawai selama bulan puasa menjadi kebijakan yang tepat guna, yakni meningkatkan efisiensi penggunaan waktu dan meningkatkan produktifitas pegawai. 

Badan lemas, lapar dan haus ketika berpuasa yang dirasakan sebagian orang sebenarnya berasal dari pikiran. Semakin kuat pikiran berfokus pada rasa lemas, lapar dan haus maka semakin kuat rasa itu mendera, juga semakin dalam tertanam dalam pikiran bawah sadar. Pikiran manusia terdiri atas 20 persen ‘wilayah’ pikiran sadar dan 80 persen pikiran bawah sadar. Pikiran sadar menyimpan memori jangka pendek, sedangkan pikiran bawah sadar menyimpan memori jangka panjang. Apa yang masuk ke dalam pikiran, itulah yang akan keluar. Jika yang masuk positif, maka positif juga yang keluar, demikian pula sebaliknya. Garbadge in garbadge out. Mengubah pikiran sadar lebih mudah dari pada mengubah pikiran bawah sadar karena memori dalam pikiran bawah sadar telah tertanam lebih kuat dan lebih lama.  Hanya seorang profesioanl di bidang mind setting yang dapat membantu penyetingan ulang pikiran secara lebih  cepat dan mudah. Karena itu harus selektif dalam memasukkan input kepada pikiran.  Seseorang takkan bisa produktif jika isi pikirannya adalah :”Ah, aku sedang berpuasa, biarlah sedikit nyantai, tak usah peras tenaga.”  Atau :”Aduh, kok lapar ya?” Tak lama kemudian :”Aduh, haus nih...”  Ada lagi yang lain :”Aduh, mulut asem nih gak bisa merokok.” Sementara dia sudah lama berpikir bahwa rokok membuatnya lebih bisa bekerja. 

Pikiran manusia memancarkan gelombang ke alam semesta. Sementara di alam semesta juga ada gelombang mahabesar di sekeliling kita. Gelombang yang terpancar dari pikiran akan ‘mengundang’ gelombang sejenis dari alam semesta yang kemudian memperkuat gelombang pikiran.  Jika hendak menjadi lebih produktif meskipun sedang berpuasa, mulailah berpikir :”Saya sehat, segar dan bugar meskipun berpuasa. Saya tidak merasa lapar dan haus. Saya bisa menyelesaikan lebih banyak pekerjaan hari ini.” Selamat berpuasa, selamat bekerja.***(Titi Surya)

Jumat, 20 Juli 2012

MENCEGAH DEHIDRASI SAAT BERPUASA RAMADHAN


 Saat berpuasa kita tidak makan dan minum selama 14 jam per hari.  Ada kemungkinan tubuh kekurangan asupan cairan. Jika hal ini terjadi selama sebulan, maka mungkin tubuh kita akan mengalami dehidrasi. Dalam kondisi normal dianjurkan minum minimal delapan gelas per hari, demikian pula saat berpuasa. Waktu makan dan minum yang terbatas mulai saat maghrib hingga imsak harus digunakan sebaik-baiknya agar asupan cairan bagi tubuh tercukupi. Misalnya, saat berbuka minumlah minimal segelas air. Bisa teh manis, es sirup atau minuman lainnya. Setelah shalat maghrib makan nasi atau sumber karbohidrat lain secukupnya. Utamakan menu sayur dan lauknya berkuah bening tanpa santan. Jika ingin kuah bersantan, gunakan santan yang sangat encer. Santan kental lebih banyak mengandung lemak. Sebelum berangkat ke masjid untuk shalat isya’ dan tarawih minum segelas air dan bawalah bekal sebotol air putih ke masjid. Carilah masjid yang agak jauh dari rumah, sehingga perlu berjalan kaki minimal 15 menit . Makin jauh makin baik sehingga lebih mudah haus karena berjalan kaki.

Setiba di masjid minum sebagian air di botol. Selanjutnya minum sedikit-sedikit pada saat mendengarkan khotbah dan sesudah shalat. Lakukan dengan cara tidak mencolok, misalnya, letakkan botol dalam kantung kain dan minum menggunakan sedotan. Tutup botol dengan baik dan pastikan tidak tumpah. Tetap minum meskipun tidak haus dan minumlah lebih banyak pada saat haus.  Saat berjalan pulang hingga sampai di rumah, habiskan air di botol. 

Di rumah, makan buah dan minum air secukupnya. Satu jam sebelum tidur minum segelas susu. Saat sahur  makan dengan sayur berkuah. Setelah sahur minum segelas air. Terakhir, beberapa menit sebelum  imsak minum segelas air. 

Pola di atas hanya contoh. Setiap orang dapat menyesuaikan dengan pola masing-masing. Prinsipnya asalkan dapat memenuhi kebutuhan cairan bagi tubuh. Tidak hanya dengan air putih, asupan cairan bagi tubuh dapat dilengkapi dengan konsumsi buah yang banyak mengandung air.  Buah-buahan seperti timun suri, semangka, melon, blewah, yang selalu banyak pada bulan Ramadhan dapat dimanfaatkan. Juga berbagai jenis buah lainnya yang berkadar air cukup tinggi. Rasanya segar dan juicy. (Titi Surya).




Kamis, 19 Juli 2012

TIDUR DAN KEGEMUKAN


KEGEMUKAN ternyata bukan hanya dipengaruhi oleh konsumsi jenis makanan yang salah. dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa perilaku tidur mempengaruhi berat badan. Kurangnya waktu tidur menurut para peneliti memiliki risiko yang lebih banyak  kalori yang kita konsumsi di malam hari, dan hal tersebut dapat dipastikan akan mempengaruhi berat badan.

Dalam beberapa tahun terakhir studi epidemiologi telah menemukan hubungan antara  lama kita tidur dan obesitas serta diabetes tipe 2. Hasilnya menunjukkan bahwa kurang tidur meningkatkan risiko kenaikan berat badan bahkan hingga diabetes. Para peneliti di German Universities Tubingen dan Lubeck and Uppsala University, Swedia, telah menyelidiki bagaimana kurangnya waktu tidur mampu meningkatkan ghrelin atau biasa dikenal sebagai hormon lapar di dalam darah. Menurut peneliti, waktu tidur yang kurang akan membuat seseorang cenderung makan lebih banyak kalori. Tidak hanya itu, penelitian ini juga menjadi informasi baru bagaimana cukupnya waktu tidur mungkin bisa mengurangi risiko obesitas dan juga diabetes. Penelitian terbaru menduga bahwa orang yang tidak mendapatkan tidur cukup cenderung menambah berat badannya. Selain itu, tidur juga dapat mempengaruhi tingkat hormon pengatur napsu makan, leptin dan ghrelin. Kurang tidur juga dapat mempengaruhi pilihan-pilihan yang Anda buat sepanjang hari.

"Ada keseimbangan yang dinamis antara tidur yang baik dengan kesehatan yang baik. Kekurangan tidur mempengaruhi berat badan dan banyak hal lainnya. Jika Anda mengurangi waktu tidur Anda, ada beberapa konsekuensinya, termasuk juga mempengaruhi hormon Anda, napsu makan dan suasana hati," kata Dr. Patrick Strollo, medical director of the University of Pittsburgh Medical Center's Sleep Medicine Center.
Para peneliti pada the Sleep Disorders Center di Sentara Norfolk General Hospital, Virginia melakukan dua penelitian, masing-masing melibatkan 1000 pria dan wanita. Mereka menemukan bahwa semua yang melaporkan kurang tidur mengakibatkan berat badan bertambah. Tentu saja, bagi orang yang kelebihan berat badan akan menjadi lebih sulit mendapatkan tidur yang nyenyak.

"Orang yang kelebihan berat badan mungkin mengalami tidur yang kurang karena rasa panas dalam perut, mengorok atau gangguan tidur yang lebih serius seperti sleep apnea atau gejala ingin makan di malam hari," kata Dr. Michelle May, penulis buku 'Am I Hungry? What To Do When Diets Don't Work.
Penelitian terbaru lainnya melibatkan 12 pria sehat yang berusia 20 tahunan. Setiap pria tidur hanya empat jam selama dua malam. Penelitian menemukan bahwa kadar leptin, sebuah hormon yang mengatakan ke otak sudah waktunya berhenti makan karena perut sudah penuh, berkurang 18 persen selama dua hari penelitian berlangsung.

Kadar hormon lain, yaitu ghrelin, yang menimbulkan rasa lapar menjadi meningkat 28 persen. Dan rata-ratanya, rasa lapar yang mereka alami meningkat 24 persen.
"Hormon akan berubah dengan kurangnya tidur," kata Strollo.
"Mendapatkan tidur cukup merupakan cara terbaik untuk mencegah kurang tidur yang memberikan kontribusi terhadap penambahan berat badan. Jika Anda tidak bisa mendapatkan tidur cukup, beri perhatian lebih pada seberapa banyak Anda makan dan bagaimana Anda mengatasi rasa lelah dan stres," saran May.
May juga menambahkan, jika Anda lelah dan kurang tidur, maka Anda akan lebih mudah stres dan gangguan emosional lainnya akan mendorong Anda untuk makan. Anda pun akan lebih banyak memilih makanan yang menyenangkan seperti coklat, es krim, atau keripik. Dan ketika Anda menyadari bahwa makan hanya membantu sementara saja, Anda mungkin akan menemukan diri Anda mencari makanan lagi dan lagi, hanya untuk membuat diri Anda merasa lebih baik.***

Selasa, 17 Juli 2012

INSTAN


Kemajuan peradaban manusia selalu ditandai dengan adanya penemuan-penemuan baru teknologi yang mempermudah manusia melakukan sesuatu. Dari hal yang paling sederhana hingga yang tercanggih, dari jaman pra sejarah hingga era ultramodern. Inovasi teknologi tak pernah berhenti, terus berkembang dari waktu ke waktu. Semua mengarah pada peningkatan efektifitas dan efisiensi, Sesuatu dibuat makin cepat, makin praktis, makin mudah, makin nyaman dan sebagainya. Contoh, komputer pertama di dunia berukuran sebesar rumah. Penemuan-penemuan berikutnya menciptakan komputer dengan ukuran semakin kecil, hingga bisa digenggam. Makin praktis, mudah dibawa dan makin nyaman menggunakannya. Contoh lain, perkembangan teknologi dibidang otomotif. Perusahaan produsen motor dan mobil di manapun selalu berlomba membuat produknya makin hari makin irit bahan bakar, makin cepat laju, makin mudah penggunaannya. Dari mobil berbahan bakar solar sampai BBM beroktan tinggi, dari sistem manual sampai otomatik. Demikian pula motor. Bukan hanya teknologi mesinnya yang makin canggih, dan efisien, penampilan juga dibuat makin gaya. Disainnya makin menarik dan makin nyaman bagi pengendara. Teknologi komunikasi, teknologi pertanian, teknologi industri, semua terus berkembang.  Pendeknya, semua aspek kehidupan manusia makin dipermudah dengan penemuan baru terus menerus. Sehingga saat ini kita terbiasa dengan sesuatu yang serbacepat, serbamudah dan praktis, serbaseketika,  serbainstsan.

Teknologi serbainstan sangat populer dalam bidang pangan. Dalam kondisi manusia dituntut lebih efisien dalam penggunaan waktu, mereka memerlukan segala sesuatu dilakukan secara cepat, termasuk  makan. Hal ini mendorong para pengelola rumah makan menciptakan sistem cepat saji dalam melayani pelanggan. Pelanggan tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan makanan (kecuali jika antriannya sangat panjang). Produk pangan untuk konsumsi rumahan juga mengalami instanisasi. Berbagai bahan pangan saat ini bisa didapat dalam bentuk tepung siap olah, hanya dengan mencampur  bahan tersebut dengan bahan penunjang lain jadilah makanan dalam waktu singkat.  Produk pangan siap saji hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk menyiapkannya, praktis caranya tanpa repot. Ada yang cukup direbus atau dipanaskan dalam oven. Produk-produk seperti mie sampai bumbu masak racikan, cake dan puding, piza, popcorn, dan banyak lagi. Semuanya instan. 

Kebiasaan  serbainstan mempengaruhi pola pikir dan perilaku orang sehingga melakukan hal-hal yang salah kaprah. Fakta bahwa tidak ada cara instan yang aman untuk melangsingkan tubuh tidak menyurutkan orang mencoba cara-cara instan yang belum tentu aman. Ingin kaya secara instan mendorong orang melakoni cara-cara yang tak masuk akal, melalui dunia ghaib atau klenik. Sebagian orang memperoleh kekayaan dengan cara melanggar hukum. Mencurangi, mencuri, menipu, merampas hak orang lain. Betapa banyak kita dengar kasus pelanggaran hukum, dari maling sepeda sampai korupsi trilyunan rupiah. 

Dalam bidang kecantikan banyak orang terkecoh oleh iming-iming iklan produk yang dapat memutihkan kulit dalam waktu hanya beberapa minggu atau setelah sekian kali pemakaian. Mereka mungkin kurang cermat memerhatikan kata-kata “ tampak lebih putih” atau “terasa lebih lembut” itu hanyalah sugesti yang sengaja ditanamkan ke benak konsumen. Beberapa produk mungkin berkwalitas baik dan aman bagi konsumen, tetapi lebih banyak produk sejenis yang diproduksi secara sembarangan dengan dasar pengetahuan dan kemampuan seadanya, serta tidak ada jaminan produk itu efektif dan aman bagi penggunanya. Tentu saja kita harus berhati-hati terhadap produk seperti ini.  Konsumen yang kritis dan rasional tidak akan mudah percaya janji-janji muluk iklan produk atau sekadar “kata orang.” Dia akan mencermati apa saja yang terkandung dalam produk, juga mencari tahu fakta-fakta ilmiah tentang memutihkan kulit. Dengan begitu dia menemukan bahwa memutihkan kulit memerlukan proses dan waktu, tidak sesederhana dan sesingkat seperti yang digambarkan iklan produk.  Ini sekadar contoh. Begitulah sikap yang benar terhadap setiap penawaran produk. 

Segala sesuatu yang salah sasaran dan salah guna pasti berdampak negatif. Demikian pula prinsip serbainstan, jika diterapkan secara proposional akan bermanfaat. Tetapi jika diterapkan bukan pada tempatnya akan merugikan. Pilihan kembali kepada kita.***




Senin, 16 Juli 2012

SANTI


Kantor yayasan penyalur baby sitter itu tidak tampak seperti kantor, tetapi lebih seperti sebuah rumah tinggal. Terletak di pinggir jalan besar yang sibuk oleh lalu lintas kendaraan. Bangunannya tampak tua tetapi terawat. Pepohonan yang tumbuh di samping dan depan rumah tumbuh rindang menaungi halaman. 

Aku  membuat janji bertemu dengan pengelola yayasan kemarin. Hari ini aku datang bersama suamiku untuk menjemput seorang baby sitter untuk mengasuh bayiku. Bayiku ini laki-laki, lima bulan, kulitnya putih, montok. Aku menggendongnya masuk ke kantor yayasan. Kami disilakan masuk melalui pintu samping berupa pintu besar dari seng yang dicat biru. Sekitar 10 langkah berjalan di sebelah kananku ada pintu masuk ke sebuah ruangan. Kami masuk, langsung bertemu dengan pengelola yayasan, Ibu Martha, yang sudah menunggu.  

Ibu Martha langsung memperkenalkan satu per satu para baby sitter yang ada di ruangan itu, kemudian memberi beberapa penjelasan tambahan.  Ada dua belas orang, yang termuda berusia lima belas tahun, yang tertua 35 tahun. Ibu Martha memintaku memilih satu di antara mereka. Kuperhatikan satu per satu dari ujung kiri ke kanan. Agak sulit juga memilih dalam waktu singkat seperti ini, pikirku. Maka kuputuskan untuk memancing mereka mengajukan diri dengan mengajukan satu pertanyaan. “Siapa yang mau mengasuh anak saya ini?” tanyaku sambil menunjuk bayiku yang kupangku. Hening dua sampai tiga menit. Aku tak heran. Masyarakat kita memang belum terbiasa berinisiatif, atau berani menjadi pendahulu, lebih aman menunggu perintah. Kita belum terbiasa mengajukan diri sendiri, lebih suka menunjuk orang lain, atau menunggu orang lain menunjuk kita. Ini pengajaran yang kurang dalam sistem pendidikan kita. Tiba-tiba seorang dari mereka mengacungkan jari telunjuk ke atas sambil berkata :”Saya, Bu.” 

Aku segera menoleh ke arah suara yang memecah keheningan barusan. Seorang gadis berdiri dengan posisi masih mengacungkan tangan. Dia tersenyum. Pandangan matanya sopan namun percaya diri. “Ya, siapa namamu?” tanyaku. “Santi, Bu.” Jawabnya sambil menurunkan tangan dan mengangguk padaku dengan takzim. Santi memakai baju putih, baju seragam baby sitter. Hanya dia sendiri di ruangan itu yang memakai seragam. Yang lain mengenakan pakaian bebas, seolah-olah mereka sedang santai di rumah, bukan menunggu tamu atau calon majikan.  Hal itu membuatku memberi  tiga nilai lebih kepada Santi dibanding lainnya. Dia berinisiatif mengajukan diri, sikapnya sopan, dan pakaian seragamnya menandakan bahwa dia siap bekerja. Maka tanpa berlama-lama, aku langsung menerimanya. Setelah menyelesaikan urusan administrasi kami langsung pulang. Santi hanya perlu waktu beberapa menit untuk membereskan barangnya, lebih tepat dua set pakaian dari jemuran untuk dimasukkan ke dalam tas yang sudah dia siapkan. Kemudian berpamitan kepada Ibu Martha dan teman-temannya, lalu bersama kami ‘pulang ke rumah barunya’.

Rumah kami cukup jauh. Hari sudah petang ketika kami sampai di rumah. Anak sulungku, Kin, segera menyambut kami dengan gembira. Apalagi ketika mengetahui  kami berhasil mendapatkan seorang pengasuh untuk adiknya. Dia segera menyambut salam dari Santi dan langsung memberondongkan pertanyaan. Siapa nama suster (sebutan untuk baby sitter), dimana rumahnya, punya adik apa tidak dan sebagainya. Semua pertanyaan Kin dijawab oleh Santi dengan sabar dan full senyum. Dia tampak sudah terbiasa menghadapi anak cerewet seperti Kin. Santi juga kukenalkan dengan Yanti, pembantu rumah tangga yang merangkap pengasuh Kin. Usia Santi dan Yanti tak jauh beda.  Kin, anak perempuanku ini baru lima tahun usianya. Dia sangat senang mempunyai adik laki-laki yang montok, lucu dan menggemaskan. Dia sering diam-diam mencubit pipi sang adik saking gemasnya. Adiknya tentu menangis, tetapi segera diam kembali karena Kin buru-buru membujuknya dengan berbagai ocehan lucu. Malah tak berapa lama adiknya sudah tertawa terkekeh-kekeh oleh gayanya memainkan boneka di depan adiknya. Melihat tingkah kedua anakku, Santi yang sudah meletakkan tas di kamarnya  mendekati. Dia lebih dulu mencuci kaki dan tangan, lalu mencoba menarik perhatian Seto, sang bayi. Dalam perjalanan pulang tadi bayiku tidur, sehingga Santi belum sempat berkenalan dengannya. Maka kubiarkan mereka bertiga mengakrabkan diri hingga maghrib tiba. Aku lega. Kini sudah ada pengasuh khusus untuk bayiku, sehingga bisa bekerja dengan tenang. Kuharap Santi dapat mengasuh bayiku dengan baik. Harapanku terkabul. Santi mengurus bayiku dengan baik. Aku sangat terbantu karenanya. Jadwal yang kubuatkan untuk kegiatan bayiku si montok Seto dipatuhinya, sehingga Seto tumbuh sehat, ceria, makin lucu.

Saat ada waktu luang kusempatkan mengobrol dengan Santi. Dia berasal dari Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Di Plumbon dia tinggal bersama nenek, kakak laki-laki dan adik perempuannya. Sebelum menjadi baby sitter, Santi pernah bekerja di pabrik sandal di Cirebon. Saat itu dia sambil sekolah di SMP Terbuka, yang waktu dan kegiatan belajarnya mandiri dengan modul-modul. Tutorial hanya dua minggu sekali. Santi tamat dari SMP Terbuka itu dengan biaya sendiri. Aku salut padanya. Salut pada semangat belajarnya yang luar biasa. Ketika itu terbersit keinginan di benakku mungkin suatu saat aku bisa membantunya melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. Niatku ini semakin kuat seiring berlalunya waktu yang kami lalui tiga tahun kemudian. Santi terus bekerja dengan baik, bahkan ketika Yanti, pembantu rumah tangga kami berhenti bekerja, dia mau mengerjakan tugas tambahan membantu membereskan rumah. Dia juga tak segan belajar menjahit dengan tangan, seperti yang kulakukan ketika membuat gaun ala putri Cinderella untuk ulang tahun Kin. Bahan gaun itu kubuat dari kain kaca bekas baju Bodo milikku. Lama-kelamaan Santi terasa seperti keluarga sendiri, tidak sekadar baby sitter

Begitulah, ketika lahir anakku yang ke tiga, seorang bayi laki-laki yang kami beri nama Seno, ketika itu Seto baru berusia 23 bulan. Maka di rumahku sekarang ada tiga anak. Sulung perempuan berusia 6,5 tahun, satu balita dua tahun laki-laki dan satu bayi laki-laki. Aku menambah satu pengasuh lagi untuk meringankan beban pekerjaan Santi.  Rumahku bertambah ramai, lebih sering terdengar tangis bayi. 

Santi akhirnya dapat melanjutkan sekolah ke SMA. Sebuah SMA swasta di Tente Bima, Nusa Tenggara Barat hingga tamat. Dia kutitipkan kepada orang tuaku yang ketika itu tinggal di sana. Setamat SMA Santi menikah di Bima dan tinggal bersama suaminya. Kemudian punya satu anak. Aku sempat berjumpa dengannya satu kali ketika dia berkunjung ke rumah orang tuaku saat aku juga berada di sana. Santi datang membawa serta anaknya yang ketika itu masih bayi. Kami sangat senang bisa bertemu lagi dan saling melepas kangen. Setelah itu aku tidak bertemu lagi dengannya hingga sekarang. Kabar terakhir yang kutahu tentang Santi adalah bahwa dia bekerja di suatu pabrik di Tangerang, tetapi aku tidak tahu pasti dimana. Itu pun kabar beberapa tahun lalu. 

Aku ingin sekali bertemu lagi dengan Santi. Ingin kudengar bagaimana kisah hidupnya selama perpisahan kami bertahun-tahun belakangan ini. Aku juga ingin menunjukkan kepadanya Kin yang sudah dewasa sekarang. Begitu juga Seto dan Seno, dua bayi yang diurusnya dulu, kini sudah remaja. Mereka pasti akan sangat senang bertemu dengan Santi. Kuberdo’a semoga suatu saat Allah memberi kesempatan kepada kami bertemu lagi.“Santi, jika kamu membaca tulisan ini, kami ingin sekali bertemu denganmu. Carilah aku di kantorku. Semoga Allah memudahkan pertemuan kita. Amin.”***