Senin, 18 Juni 2012

DIALEK

Berkaitan dengan dialek, aku punya pengalaman menarik. Beberapa kejadian berbeda di tempat dan waktu berbeda. Itu karena aku bisa berbicara dalam beberapa dialek bahasa; dialek Kupang Nusa Tenggara Timur (bukan Kupang Surabaya Jawa Timur), dialek Bali, dialek Lombok, dialek Makasar, dialek Jawa Surabaya, dialek Jawa Banyumas, dialek Jawa Solo dan Yogya, dialek Sunda.

Seringkali orang yang baru mengenalku bingung. Mereka tidak bisa langsung mengetahui dari daerah mana aku berasal. Kepada beberapa di antara mereka aku sengaja tidak langsung memberitahu dan meminta mereka menebak. Bisa ditebak, kebanyakan tebakan mereka salah. Namanya juga tebak-tebakan. Ada yang menebak aku orang Makasar, orang Sunda, orang Solo, orang Yogya. Menariknya, tidak ada yang langsung percaya jika kukatakan aku asli Banyumas, entah mengapa. Mereka baru percaya setelah kubuktikan aku bisa berbicara dengan dialek Jawa Banyumas yang "ngapak-ngapak" itu. Pada kesempatan lain, ada orang NTT sendiri terkejut ketika aku bicara dengan mereka, di Jakarta, dengan dialek Kupang yang kental. Katanya, dia baru bertemu satu orang di Jakarta (maksudnya di luar wilayah Kupang atau NTT), yang bentuk dan penampilannya tidak seperti orang Kupang, tetapi bicara dalam dialek Kupang sama "medok"nya dengan dia.

Kemampuanku bicara dalam beberapa dialek bahasa dan bicara sesuai dengan dialek lawan bicara sangat berguna dalam pekerjaanku. Aku bekerja di Pusat Pemberitaan Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI), saat ini sebagai produser pelaksana di studio Pro 3 Jaringan Berita Nasional. Karena sistemya berjaringan, seringkali aku harus berkoordinasi dengan teman-teman di daerah-daerah seindonesia, dari RRI Sabang sampai RRI Merauke. Ketika aku berbicara melalui telepon dengan teman-teman dari RRI mana pun, kami bisa langsung akrab, terasa dekat. Teman di seberang sana merasa seolah-olah aku berada di sebelahnya di sana, bukan di Jakarta. Karena aku berbicara dalam dialek mereka. Alhasil, koordinasi menjadi lebih mudah dan lancar.

Beberapa dialek yang kubisa itu karena aku pernah tinggal di daerahnya.  Di Kupang NTT aku pernah tinggal selama 14 tahun, di Bali enam bulan, di Lombok tiga tahun. Aku juga pernah tinggal di Cimahi Jawa Barat selama lima tahun, maka aku bisa dialek Sunda. Dialek Banyumas lekat di lidahku karena aku lahir di sana. Selebihnya aku bisa dialek bahasa yang lain karena sering berbicara dengan pengguna bahasanya. Lidahku seperti bunglon, bisa segera menyesuaikan dengan dialek lawan bicara. 

Kalau begitu, mestinya aku gaul bareng bule ya, biar cepet bisa cas-cis-cus dengan bahasa Inggris. Atau gaul bareng komunitas yang berbahasa Inggris. Hari gini belum lancar ngomong Inggris malu juga sebenernya. Ini bikin aku tidak PD juga. Adakah komunitas berbahasa Inggris yang mau bantu aku?

Ngomong-ngomong soal dialek, aku merujuk pada makna kata dialek dan penjelasannya yang termuat dalam Artikata.com. Di bawah ini kutipannya.

Dialek bermakna variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai. Misalnya bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu atau kurun waktu tertentu. Diantaranya Dialek Regional yang cirinya dibatasi oleh tempat, misalnya dialek Melayu Manado, dialek Jawa Banyumas. Selain itu ada Dialek Sosial yakni dialek yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu, misalnya dialek wanita dalam bahasa Jepang. Ada lagi Dialek Temporal yakni dialek dari bahasa yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, misalnya yang lazim disebut bahasa Melayu Kuno, Melayu Klasik dan Melayu Modern, masing-masing adalah Dialek Temporal dari Bahasa Melayu. Ada juga Dialek Tinggi yakni variasi sosial atau regional suatu bahasa yang diterima sebagai standar bahasa itu dan dianggap lebih tinggi dari pada dialek-dialek lain.(Artikata.com).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar