Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang mirip dengan orang lain yang Anda kenal sebelumnya? Atau pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Anda? Kemudian makin lama mengenalnya makin banyak Anda temukan kemiripan Anda berdua? Aku mengalaminya. Ceritakan gak ya? Cerita aja deh, siapa tahu ada di antara Anda yang juga mengalami. Kemudian kita bisa berbagi cerita nanti.
Bermula dari suatu pertemuan keluarga sekitar dua tahun yang lalu. Itu adalah pertemuan pertama setelah perpisahan selama bertahun-tahun. Pada pertemuan hari itu kami, aku dan Ema salah satu saudara perempuanku, pertama kali bertemu saat sama-sama berusia dewasa. Usia kami berjarak 10 tahun, aku lahir lebih dulu dari Ema. Tetapi hari itu aku seperti melihat diriku sendiri, rasanya seperti seumuran dengan Ema. Kami sama-sama merasakan kemiripan fisik kami berdua. Juga semua yang hadir di situ. Pertemuan hari itu hanya beberapa jam. Kemudian berlanjut dengan beberapa kali aku berkunjung. Selebihnya kami berkomunikasi melalui telepon.
Komunikasiku dengan Ema melalui telepon cukup intens. Seringkali aku kangen atau tiba-tiba teringat padanya kemudian meneleponnya. Kami berbagi cerita tentang apa yang kami kerjakan, atau bertukar pendapat tentang berbagai hal. Makin sering berbagi cerita, makin banyak persamaan kami temukan. Misalnya, ternyata kami sama-sama orang yang 'easy going', sama-sama pembosan, artinya jika memulai sesuatu hanya panas-panas **** ayam dan tidak tuntas. Kami juga sama-sama doyan makan, makan apa saja sepanjang masih makanan manusia. Itu sebabnya badan kami juga sama suburnya. Sampai ke hal-hal yang lebih pribadi, seperti, maaf, pakaian dalam. Kami tidak pernah saling mengintip apa dan bagaimana bentuk pakaian dalam masing-masing. Tetapi ketika aku menginap di rumahnya, ketahuanlah dari pakaian yang kucuci dan jemur, ternyata warna, bahan dan model pakaian dalam kami pun serupa. Bagaimana dua orang yang berjarak usia 10 tahun, lahir dan besar di lingkungan yang berbeda, bisa memiliki begitu banyak kemiripan? Berkali-kali kukatakan : "Hai, Kembaranku!" Mulanya Ema tidak sepenuhnya yakin dengan kata "kembar" buat kami berdua. Sampai suatu saat aku meneleponnya dan kami mengobrol. Ternyata dalam kurun waktu yang sama, kami sedang memikirkan dan melakukan hal yang serupa. Saat itu Ema baru benar-benar yakin bahwa kami memang pantas disebut kembar.
Aku dan Ema memang bersaudara. Kami satu ayah meski dikandung dan dilahirkan oleh ibu yang berbeda. Sangat mungkin persamaan dan kemiripan kami adalah hal yang lumrah, biasa saja. Tetapi bagiku, yang anak tunggal ibuku dan telanjur terbiasa merasa 'sendiri' (Jawa : lola), sebatang kara, setelah dewasa mendapati seseorang yang memiliki banyak persamaan dan kemiripan denganku, sungguh luar biasa. Ini membuatku sangat gembira. Rasanya bagaikan menemukan bagian duniaku yang hilang sekian lama. Kini aku tahu, ada seseorang yang sangat peduli padaku, siap memberi dorongan semangat yang kuperlukan, juga tak segan mengeritik karena dia tahu aku takkan keberatan. Bahagianya punya saudara. Bahagianya punya kembaran.
Komunikasiku dengan Ema melalui telepon cukup intens. Seringkali aku kangen atau tiba-tiba teringat padanya kemudian meneleponnya. Kami berbagi cerita tentang apa yang kami kerjakan, atau bertukar pendapat tentang berbagai hal. Makin sering berbagi cerita, makin banyak persamaan kami temukan. Misalnya, ternyata kami sama-sama orang yang 'easy going', sama-sama pembosan, artinya jika memulai sesuatu hanya panas-panas **** ayam dan tidak tuntas. Kami juga sama-sama doyan makan, makan apa saja sepanjang masih makanan manusia. Itu sebabnya badan kami juga sama suburnya. Sampai ke hal-hal yang lebih pribadi, seperti, maaf, pakaian dalam. Kami tidak pernah saling mengintip apa dan bagaimana bentuk pakaian dalam masing-masing. Tetapi ketika aku menginap di rumahnya, ketahuanlah dari pakaian yang kucuci dan jemur, ternyata warna, bahan dan model pakaian dalam kami pun serupa. Bagaimana dua orang yang berjarak usia 10 tahun, lahir dan besar di lingkungan yang berbeda, bisa memiliki begitu banyak kemiripan? Berkali-kali kukatakan : "Hai, Kembaranku!" Mulanya Ema tidak sepenuhnya yakin dengan kata "kembar" buat kami berdua. Sampai suatu saat aku meneleponnya dan kami mengobrol. Ternyata dalam kurun waktu yang sama, kami sedang memikirkan dan melakukan hal yang serupa. Saat itu Ema baru benar-benar yakin bahwa kami memang pantas disebut kembar.
Aku dan Ema memang bersaudara. Kami satu ayah meski dikandung dan dilahirkan oleh ibu yang berbeda. Sangat mungkin persamaan dan kemiripan kami adalah hal yang lumrah, biasa saja. Tetapi bagiku, yang anak tunggal ibuku dan telanjur terbiasa merasa 'sendiri' (Jawa : lola), sebatang kara, setelah dewasa mendapati seseorang yang memiliki banyak persamaan dan kemiripan denganku, sungguh luar biasa. Ini membuatku sangat gembira. Rasanya bagaikan menemukan bagian duniaku yang hilang sekian lama. Kini aku tahu, ada seseorang yang sangat peduli padaku, siap memberi dorongan semangat yang kuperlukan, juga tak segan mengeritik karena dia tahu aku takkan keberatan. Bahagianya punya saudara. Bahagianya punya kembaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar