Hidup memang tidak mudah. Aku mengangguk berulang kali, mungkin benar juga kata-kata itu. Hidup memang tidak mudah. Tidak peduli bagi orang kaya atau miskin, pintar atau bodoh, orang yang memiliki banyak kelebihan atau sebaliknya, bagi orang yang dianggap suci atau pendosa. Hidup seolah tidak pernah memilih 'korbannya' untuk diuji. Membuat kehidupan manusia tidak mudah. naik-turun bergelombang. Seperti slogan iklan sejenis keripik : Life is never flat. Ada kesempatan jeda, ketika manusia dibiarkan merasakan kesenangan, ketenteraman, kedamaian, kemudahan. Tetapi itu tidak pernah bertahan lama. Setelah manusia tersenyum dan tertawa, segera datang takut, sedih dan tangis. Lebih tidak mudah lagi, karena manusia takkan pernah tahu kapan ujian berakhir kemudian berganti dengan ujian berikutnya. Apakah ujian berikutnya lebih berat atau lebih ringan? Kapan saatnya jeda dan berapa lama?
Manusia menjalani hidup dengan beragam cara. Sebagian orang membuat hidup mereka menjadi seolah lebih sederhana, lebih mudah. Bagi mereka, hidup terlalu berharga untuk dibebani dengan gerutu, keluh-kesah dan sumpah-serapah. Tak ada waktu untuk bermacam-macam alasan menunda dan mermalas-malasan. Tak terlintas dalam benak mereka keraguan dan pesimisme. Tak ada tempat dalam hati mereka rasa takut dan minder. Seakan-akan mereka selalu dapat menyelesaikan masalah dengan mudah. Seakan-akan masalah adalah menu sarapan, makan siang dan makan malam mereka. Artinya, masalah mereka di pagi hari selesai pagi itu juga. Ketika makan siang masalah sudah berganti yang baru dan selesai siang itu juga. Demikian pula masalah di malam hari beda lagi, tetapi bisa diselesaikan malam itu juga. Besok pagi adalah hari yang baru dengan masalah yang baru pula, dan seterusnya.
Pertanyaannya, mengapa mereka bisa? Bagaimana mereka bisa? Mengapa banyak orang lain tidak bisa? Bukankah semua orang punya kesempatan yang sama? Karena kemampuan manusia berbeda-beda.
Kata Pak Ustad, Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tetapi selalu ada bekal dasar sebagai alat untuk menjalani kehidupan, menghadapi ujian, yakni akal, nurani dan nafsu. Secara imajiner, nurani berada di sebelah kanan, akal di tengah, nafsu di kiri. Jika diletakkan pada segi tiga, maka nurani berada di sudut sebelah kanan, akal berada di sudut puncak segi tiga, nafsu di sudut sebelah kiri. Segi tiga itu seperti garis yang menghubungkan ujung jari tangan kanan ke kepala, kemudian ke ujung jari tangan kiri, ketika seseorang membentangkan kedua tangan ke bawah, masing-masing tangan membentuk sudut 45 derajat dari badannya. Dalam konteks ini, ketiganya merupakan simbol. Nurani adalah simbol sumber kebaikan yang selalu mengarahkan manusia pada kebaikan, sebaliknya nafsu adalah simbol sumber kejahatan yang selalu menyeret manusia kepada hal buruk. Tuhan membekali manusia dengan akal untuk berpikir, menimbang, manakah yang akan dia turuti, nuraninya atau nafsunya. Penggunaan ketiga alat itu sepenuhnya tergantung pada manusianya. Mana yang lebih dominan akan mempengaruhi pola pikir, sikap, ucapan dan tindakannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar