Minggu, 17 Juni 2012

TUKANG CUKUR

Siang tadi aku kecele ketika sampai di depan kios tukang cukur langgananku. Bukan karena kios tutup karena hari ini Minggu. Kios itu siang tadi kosong, benar-benar kosong. Tidak ada sesuatu pun yang menandakan di situ pernah ada kursi-kursi, cermin di sepanjang salah satu sisi dindingnya, peralatan mencukur yang manual dan yang menggunakan listrik.

Setelah kuperhatikan, ternyata kios sebelahnya juga kosong. Kios yang satu ini bekas bengkel motor. Di situ juga sudah tidak ada lagi peralatan bengkel dan tidak ada motor. Yang tersisa hanya bekas oli di lantai dan sebagian dinding. Beberapa bagian langit-langitnya rusak. Ada triplek yang menganga, ada yang sampai menjuntai tergantung pada satu-satunya paku yang tersisa. Lisplang di bagian depan kios juga rusak.

Dua kios kosong itu adalah bagian dari sederet kios yang terdiri atas lima kios. Paling ujung kiri adalah kios buah, sebelah kanannya kios tukang cukur. Kemudian berurutan kios bengkel motor, kios beras, dan paling kanan kios warteg. Selain kios tukang cukur dan kios bengkel, semua kios di situ masih ada dan berjualan seperti biasa.

Di sebelah kiri depan dari kios buah terdapat lapak koran. Bang Jek, si pemilik lapak koran itu mendekatiku ketika melihatku bengong di depan kios tukang cukur. Aku langsung menyapanya.
"Hai, Bang. Tukang cukurnya pindah ya?"
"Iya, Bu."
"Ini kiosnya emang sengaja dikosongin? Mau dibenerin?"
"Iya, Bu. Ini mo dibenerin sama yang punya. Abis kayaknya udah banyak yang rusak."
"Trus tukang cukur ini pindah kemana?"
"Pindah ke sana, deket mesjid?"
"Ooo, gitu. Ya udah deh, Bang, makasih ya."
"Ya, Bu."
Aku beranjak dari depan kios tukang cukur yang kini sudah kosong, berbalik arah, pulang.

Mulanya aku berniat potong rambut di situ. Rambutku sudah gondrong. Ujung poniku sudah mencapai mata dan sering mengganggu pandanganku. Itu menandakan bahwa sudah waktunya aku potong rambut. Aku suka potong rambut di situ karena yang terdekat, hanya berjarak 100 meter dari tempat tinggalku.

Masih kuingat ketika pertama kali potong rambut di situ. Ketika aku masuk pemiliknya, Bang Rahmat, sedang mencukur rambut seorang pelanggan, seorang laki-laki berbadan besar. Usianya kira-kira 40 tahun. Rambutnya dipotong cepak seperti tentara. Kursi sebelahnya seorang laki-laki sedang mencukur rambut seorang bocah, sekitar delapan tahun. Kedua tukang cukur yang sedang bekerja itu sekilas melihatku dari cermin di depan mereka tanpa menoleh ke arahku. Kemudian melanjutkan pekerjaan mereka. Aku duduk di kursi yang tepat berada di belakang kursi pelanggan yang sedang ditangani Bang Rahmat, berjarak tiga langkah darinya.

Ruangan dalam kios itu berukuran 3 x 5 meter persegi. Bagian depan terdapat pintu dan jendela kaca selebar dinding. Tidak ada tulisan apapun di kaca jendela itu. Tidak ada nama barbershop atau tulisan lain. Dinding sebelah kiri dipenuhi cermin. Berhadapan dengan cermin ada dua kursi pelanggan. Kursi pelanggan ini besar dan empuk, ada sandaran kaki. Tampaknya pelanggan yang dudukdi situ cukup nyaman. Tiga langkah di belakang kursi pelanggan berderet lima buah kursi antrian pelanggan atau pengantarnya. Kursi yang ini adalah kursi plastik tanpa sandaran. Tetapi karena letaknya dekat dinding jadi orang yang duduk di situ dapat bersandar pada dinding. Ada dua kursi plastik lagi di ruangan itu. letaknya di dekat dinding belakang. Di depannya ada satu meja kecil. Belakangan kutahu meja itu berfungsi sebagai meja kasir.

Di sebelahku duduk seorang perempuan. Usianya sekitar tiga puluhan. Dia sibuk meneriaki seorang bocah. Bocah ini lebih muda dari bocah yang sedang dicukur, usianya sekitar tiga tahun. Rupanya yang sedang dicukur itu adalah kakaknya, karena sang ibu berkali-kali berkata dengan lantang. lebih tepat berteriak.
"Rafi, jangan ganggu kakak! Sini duduk sama Mama!"
Rafi, sang adik, hanya menoleh sejenak ke arah mamanya. Kemudian melompat-lompat di dekat kursi yang diduduki kakaknya. Ia ingin melihat bayangan kakaknya di cermin. Sedangkan ia belum cukup tinggi untuk dapat melihat cermin tanpa melompat.

Tak lama kemudian masuk seorang laki-laki. Dia langsung duduk disebelahku.  Aku mengambil koran yang tergeletak di meja dan membacanya. Koran kota terbitan hari itu. aku langsung mencari iklan rumah, yang dijual atau dikontrakkan. Siapa tahu ada yang menarik. Kalau lokasinya mudah dijangkau dan harganya cocok, mungkin aku bisa pindah.

Selagi aku membalik-balik koran, Bang Rahmat selesai mencukur laki-laki berbadan besar itu.  Dia langsung menyilakan laki-laki di sebelahku untuk dicukur berikutnya. Serta merta aku berdiri dan memberitahunya bahwa akulah yang harus dicukurnya lebih dulu, laki-laki di sebelahku itu datang belakangan. Bang Rahmat terkejut. Dia tidak mengira aku, seorang perempuan, berjilbab pula, mau cukur rambut di tempatnya. Semula dia mengira aku hanya mengantar.  Di terdiam sejenak. Lalu kuulangi bahwa aku memang bermaksud memotong rambut di situ. Baru dia menyilakanku maju ke kursi cukurnya.

Sambil melepas penutup kepalaku, kujelaskan kepada Bang Rahmat bahwa aku ingin rambutku dicukur pendek seperti laki-laki. Bang Rahmat sempat ragu-ragu, tetapi kuyakinkan bahwa aku nyaman dengan potongan rambut seperti itu. Kuminta dia tidak usah sungkan, anggap saja kepalaku ini adalah kepala laki-laki. Kemudian mulailah Bang Rahmat mencukur rambutku.  Sejak itu, sebulan sekali aku menjadi pelanggan tetapnya.

Tetapi hari ini aku hanya mendapati kiosnya kosong. Aku akan mencarinya ke dekat masjid yang ditunjuk bang Jek, tukang koran tadi siang. 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar